Agus Riza: Kalau Ingin Bawa Liga Indonesia Naik Kelas, Tinggalkan Kasus Klub Tunggak Gaji Pemain
Suasana diskusi Water Break PSSI Pers bertajuk "Membawa Liga Naik Kelas" di Kantor I.League, Jakarta, Senin sore, 31 Agustus 2026. -Weradio.co.id Agus Riyanto-Agus Riyanto
JAKARTA, Weradio.co.id - Peningkatan kualitas liga seharusnya seiring dengan perbaikan keuangan klub. Itu dapat menghindari klub menunggak gaji pemain hingga berbulan-bulan. Satu kasus yang hingga saat ini masih jadi permasalahan di kompetisi sepak bola Indonesia, tak terkecuali Super League.
Super League merupakan kompetisi sepak bola kasta tertinggi di Indonesia. Namun, hingga saat ini masih saja ada di antara mereka yang menunggak gaji pemain.
Kasus tersebut diungkapkan oleh Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) dalam acara diskusi Water Break PSSI Pers bertajuk "Membawa Liga Naik Kelas" di Kantor I.League, Jakarta, Senin sore, 31 Agustus 2026.
"Berdasarkan hasil evaluasi musim lalu, permasalahan dasar, yakni penunggakan gaji pemain masih terjadi. Contohnya terjadi di PSBS Biak, PSM Makassar, dan Semen Padang," sebut Legal Officer APPI Mohammad Agus Riza Hufaida.
BACA JUGA:Banjir Hadiah Miliaran Rupiah, My Baby Bagikan Mobil Listrik hingga HP Gratis untuk Para Ibu
Agus Riza mengungkapkan, dari data APPI, ada sekitar 303 pemain yang terdampak penunggakan gaji. Total 28 klub terlibat.
Padahal, sudah ada keputusan dari NDRC (National Dispute Resolution Chamber). NDRC merupakan badan arbitrase resmi yang bernaung di bawah PSSI. Mereka bertugasq menyelesaikan sengketa kontrak dan persoalan hukum dalam sepak bola nasional secara netral dan adil.
"Bahkan, sudah ada yang kena banned FIFA seperti Kalteng Putra, Sriwijaya FC, dan Persiwa Wamena," sebut Agus Riza.
Jadi, menurut Agus Riza, sudah selayaknya bila peningkatan kualitas liga juga dibarengi dengan perbaikan aspek finansial klub sehingga ke depannya tidak muncul lagi kasus penunggakan gaji.
BACA JUGA:Total 1.090 Peserta Dari 16 Provinsi, Ramaikan Kejurnas Fespati 2026 di Malang
"Kalau kita bicara membawa liga naik kelas, hal seperti tunggakan gaji harusnya sudah kita ditinggalkan, minimal di Liga 1," tegas Agus Riza.
Sebelum Agus Riza mengungkapkan fakta-fakta di atas, Direktur Komersial I.League, Sadikin Aksa mengklaim bahwa kompetisi sepak bola di Indonesia memiliki tingkat kompetitif paling tinggi, melewati Thailand, Malaysia, dan Vietnam.
"Kalau melihat competitiveness level Indonesia, menurut data dari AFC (Konfederasi Sepak Bola Adia), se-Asia Tenggara ini kita sudah nomor satu," sebut Sadikin.
Menurut dia, kompetitivitas sebuah kompetisi bisa dilihat dari ketatnya persaingan di antara klub peserta kompetisi.