Film Mantra of Kahwa, Saat Kopi Sumatra Dikawinkan dengan Angin
Pemutaran Film Mantra of Kahwa di JIEXPO-istimewa-
“Kami telah bekerja sama dengan berbagai kementerian dan instansi, baik di dalam maupun luar negeri, untuk memanfaatkan film sebagai sarana memperkenalkan kopi Indonesia dalam berbagai forum internasional,” lanjutnya.
Dalam konteks pasar global yang makin kompetitif, Roby menilai bahwa keunikan menjadi kunci utama.
“Melalui film seperti Mantra of Kahwa, kami ingin memperlihatkan bukan hanya produknya, tetapi juga siapa saja yang terlibat—terutama dedikasi para petani kopi Indonesia,” jelasnya.
Permintaan Pasar Internasional
Pendekatan berbasis cerita ini menjadi semakin relevan seiring meningkatnya permintaan akan traceability, authenticity, dan origin story di pasar internasional.
BACA JUGA:PTPN I Genjot Produksi Karet di Bengkulu
Storytelling tidak lagi menjadi pelengkap, tetapi telah menjadi bagian dari nilai yang menentukan persepsi dan positioning sebuah produk.
Bagi Budi Kurniawan, “Mantra of Kahwa” merupakan bagian dari eksplorasi panjang terhadap kopi Indonesia sebagai identitas budaya.
Dia telah mengembangkan sejumlah film dokumenter kopi sebelumnya, antara lain The Aroma of Heaven, Legacy of Java, dan House of Cula, yang masing-masing mengangkat karakter dan cerita dari berbagai daerah penghasil kopi di Indonesia.
“Film ini adalah bagian dari tujuh film yang sudah dan sedang saya kerjakan. Ke depan, masih ada tiga film lagi yang akan dibuat, termasuk tentang kopi dari Bajawa Flores, Bali Kintamani, dan Wamena di Papua,” ungkap Budi.
BACA JUGA:Tenang, WHO Pastikan Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Bukan Awal Pandemi
"Hal yang paling sulit dalam produksi tidak ada, tapi yang paling penting itu menjaga konsistensi kualitas di setiap film yang saya buat. "
Lebih jauh, Budi melihat bahwa kopi memiliki dimensi yang melampaui aspek rasa dan produk.
“Setiap kopi menyimpan endapan ingatan setiap orang dan identitas kultural bagi peradaban manusia,” tuturnya.
Pernyataan tersebut memperkuat bahwa kopi tidak hanya hadir sebagai komoditas, tetapi sebagai bagian dari perjalanan manusia itu sendiri—sebuah narasi yang terus hidup dan diwariskan lintas generasi.