Pedagogi Ketekunan, Mengukir Logika Alami Anak di Tengah Derasnya Arus Dunia Digital

Pedagogi Ketekunan, Mengukir Logika Alami Anak di Tengah Derasnya Arus Dunia Digital

Adit Barli (tengah) sedang menerima kunjungan Wakil PM Malaysia, 2001.-Weradio.co.id-Dok Adit Barli

Di titik itulah metode Adit terasa 'aneh' bagi sebagian orang. Ia tidak percaya pada hasil instan. Ia percaya proses. Sebab baginya, manusia tidak dibentuk oleh kecepatan, melainkan oleh sebuah ketekunan yang dilakukan terus-menerus.

Cara berpikir seperti ini terasa asing di zaman yang serba cepat. Hari ini, orang ingin segalanya instan, ilmu instan, sukses instan, bahkan kebijaksanaan instan. Media sosial memperparah keadaan itu dengan menciptakan ilusi bahwa hidup adalah perlombaan pencitraan.

Adit memilih keluar dari lingkaran tersebut. Bahkan, pada 2001, Muhyiddin Yassin pernah memintanya untuk membantu memperbaiki sistem pendidikan di Malaysia.

Jawabannya justru memperlihatkan kualitas batin yang jarang dimiliki banyak orang. Ia berterima kasih atas tawaran itu, tetapi memilih tetap tinggal di Bandung untuk memperbaiki metode pendidikan di Indonesia.

Keputusan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat filosofis. Sebab, banyak manusia hari ini rela meninggalkan akar sosialnya demi validasi luar negeri.

Seolah pengakuan asing lebih berharga daripada membangun bangsanya sendiri. Mentalitas seperti itu diam-diam memperlihatkan krisis identitas yang serius dalam masyarakat pascakolonial.

Adit Barli mengambil jalan berbeda. Ia tidak mencari pengakuan. Ia menjalani peran hidupnya sebagai seorang Bogalakon. Dalam Bahasa Sunda yang berarti pemeran utama dalam kehidupannya sendiri.

Ia tidak sibuk menjadi tokoh dalam cerita orang lain. Ia memilih bertanggung jawab atas jalan hidupnya sendiri. Idolanya adalah dirinya sendiri.

Bagi sebagian orang, jawaban itu mungkin terdengar arogan. Padahal, sesungguhnya itu adalah refleksi terdalam tentang mengenal diri sendiri. Tentang keberanian bertanya setiap hari.

“Apakah saya hari ini lebih baik daripada kemarin?” Itulah yang membuatnya tampak lebih damai dibandingkan banyak manusia modern hari ini.

Ia hidup sederhana. Tidak memiliki jabatan besar. Tidak hidup berlebihan. Tetapi juga tidak pernah merasa kekurangan.

Sebab, kebahagiaan sejati memang tidak lahir dari banyaknya yang dimiliki manusia, melainkan dari kemampuan menerima dirinya sendiri tanpa harus terus-menerus meminta pengakuan dunia.

(*) Penulis adalah pengamat kebudayaan dan dinamika sosial. Penulis merupakan alumni S1 dan S2 Fakuktas Hukum Universitas Krisnadwipayana.