HR yang Bekerja secara Reaktif Bisa Persulit Perusahaan Bangun Keberlanjutan Jangka Panjang
Fungsi HR tidak hanya merespons kebutuhan sesaat, tetapi ikut membantu perusahaan menyiapkan talenta yang dibutuhkan untuk masa depan. --Shutterstock
Setelah arah bisnis dan kondisi workforce dipahami, langkah berikutnya adalah menyusun rencana kebutuhan SDM yang lebih terstruktur.
Kevin menjelaskan, perusahaan perlu menentukan dengan lebih disiplin mana kapabilitas yang harus dicari dari luar, dan mana yang sebaiknya dibangun dari dalam melalui pengembangan.
Pendekatan ini membantu perusahaan mengelola biaya, mempercepat kesiapan SDM, dan membangun pipeline kemampuan secara lebih berkelanjutan. Dalam konteks bisnis yang berubah cepat, keseimbangan antara buy dan build menjadi semakin krusial.
4. AI bukan pengganti manusia, tetapi penguat kualitas keputusan HR
Dalam pandangan Kevin, AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu untuk membuat keputusan yang lebih cepat dan lebih informasional, bukan sebagai pengganti manusia.
AI dapat membantu mengintegrasikan data dari berbagai sistem seperti LMS (learning management system), HRIS (human resource information system), dan platform lainnya agar perusahaan memiliki pandangan yang lebih menyeluruh terhadap kondisi tenaga kerja.
BACA JUGA:Siap Caplok Raksasa Energi Filipina, Prajogo Pangestu Ajukan Tawaran Fantastis Rp 80 Triliun
Namun, Kevin juga menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan etika dan judgment manusia. Karena itu, nilai terbesar AI justru muncul ketika teknologi digunakan untuk memperkuat kualitas analisis, sementara keputusan penting tetap dijalankan dengan pertimbangan manusia.
5. Transformasi AI dan workforce planning tidak perlu dimulai dari perubahan besar sekaligus
Salah satu pesan paling praktis dari Kevin adalah pentingnya memulai. Alih-alih terlalu lama berdiskusi atau mencoba merombak seluruh perusahaan dalam satu langkah, perusahaan sebaiknya memulai dari pilot kecil di satu fungsi atau departemen, lalu belajar dan melakukan iterasi dari sana.
Pendekatan ini membuat implementasi menjadi lebih realistis, lebih rendah risiko, dan lebih mudah mendapatkan pembelajaran nyata. Pola pikir “mulai aja dulu” juga menjadi pengingat bahwa transformasi yang baik tidak selalu dimulai dari rencana yang sempurna, tetapi dari keberanian untuk mencoba, belajar, dan memperbaiki.
“AI bukan untuk menggantikan manusia. Tapi AI akan menggantikan manusia yang tidak menggunakan AI,” kata Kevin Thompson dalam siaran pers yang diterima Weradio.co.id.
Kevin menekankan, ada satu hal mendasar yang tetap tidak bisa digantikan oleh teknologi. “Satu hal yang tidak bisa digantikan oleh AI adalah etika. Etika di balik sebuah keputusan. Kita bisa mendapatkan lebih banyak data dengan bantuan AI, tetapi berdasarkan data tersebut, tetap ada etika di balik keputusan yang harus kita ambil,” tambahnya.