Tenun Dayak Iban Menggebrak Jakarta Fashion Week 2027, Pendapatan Penenun Naik 360 Persen

Tenun Dayak Iban Menggebrak Jakarta Fashion Week 2027, Pendapatan Penenun Naik 360 Persen

Hasil pendampingan intensif Yayasan Kawan Lama selama hampir dua tahun tersebut resmi mencuri perhatian publik fashion nasional dalam ajang bergengsi Jakarta Fashion Week (JFW) 2027.-Weradio.co.id-Yayasan Kawan Lama

JAKARTA, Weradio.co.id - Pelestarian warisan budaya kini tidak lagi sekadar merawat tradisi masa lalu, melainkan mampu menjadi motor penggerak ekonomi yang menjanjikan.

Hal ini dibuktikan melalui program Aram Bekelala Tenun Iban inisiatif Yayasan Kawan Lama di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat yang sukses melambungkan kesejahteraan para perempuan penenun lokal hingga mencatatkan lonjakan pendapatan yang fantastis.

Hasil pendampingan intensif Yayasan Kawan Lama selama hampir dua tahun tersebut resmi mencuri perhatian publik fashion nasional dalam ajang bergengsi Jakarta Fashion Week (JFW) 2027.

Berkolaborasi dengan Cita Tenun Indonesia, perancang busana Wilsen Willim, dan Pendopo, karya busana kontemporer berbahan tenun Dayak Iban sukses memukau penonton pada 31 Oktober 2026.

BACA JUGA:Dari Limbah Pertanian Jadi Pewarna Alami Wastra, Polipangkep Dorong Hilirisasi Inovasi Berbasis Potensi Lokal

Lonjakan Pendapatan dan Perluasan Pasar

Berdasarkan laporan program Aram Bekelala Tenun Iban hingga tahun 2026, rata-rata pendapatan para penenun melonjak drastis hingga 360%, dengan total nilai penjualan tenun menembus angka lebih dari Rp 500.000.000.

Ketua Pengurus Yayasan Kawan Lama, Tasya Widyakrisnadi, menegaskan bahwa pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas dan pembukaan peluang ekonomi bagi masyarakat yang menjaganya.

“Melalui Aram Bekelala Tenun Iban, kami ingin memastikan bahwa para perempuan penenun memiliki ruang untuk terus mengembangkan keterampilan, memperluas peluang pemasaran, dan membangun kemandirian. Kehadiran tenun Iban di Jakarta Fashion Week menjadi salah satu langkah untuk memperkenalkan karya mereka kepada pasar yang lebih luas,” ujar Tasya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tenun Kenyalang Mandang Ketangkung dari Dusun Lauk Rugun, Anastasia Sunta, mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas perubahan signifikan yang dirasakan komunitasnya.

BACA JUGA:Dian Puspa Sari, Sopir Taksi yang Melenggang di Jakarta Fashion Week

“Keterampilan semakin berkembang, pendapatan keluarga semakin baik, dan terbuka harapan untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak kami. Kami juga bangga karena tenun Pileh, warisan leluhur yang kini semakin sedikit ditenun generasi penerus, kini menjadi bagian dari koleksi Jakarta Fashion Week 2027,” ungkap Anastasia.

Penguatan Kapasitas dan Inovasi Motif

Keberhasilan program ini bertumpu pada fondasi penguatan kapasitas yang matang melalui beberapa langkah strategis. Pertama, pendekatan Training of Trainers. Sebanyak 20 perempuan penenun dilatih menjadi fasilitator lokal yang kemudian berhasil merangkul lebih dari 80 penenun lainnya.

Kedua, dokumentasi dan inovasi. Program ini sukses mendokumentasikan 58 motif tenun lokal, menciptakan 5 inovasi motif baru, serta memperluas eksplorasi pewarna alami dari 6 variasi menjadi 69 variasi warna dengan memanfaatkan 23 jenis tanaman lokal.