Survei Deloitte 2026 Ungkap Peran Integrasi, AI, dan Kompleksitas dalam Membentuk Lanskap Infrastruktur Global

Survei Deloitte 2026 Ungkap Peran Integrasi, AI, dan Kompleksitas dalam Membentuk Lanskap Infrastruktur Global

Ilustrasi: Laporan 2026 Future of Infrastructure Survey dari Deloitte menunjukkan, investasi infrastruktur meningkat pesat di berbagai kategori aset di seluruh dunia, mulai dari infrastruktur dan jaringan digital; energi, air, dan utilitas lainnya. --Shutterstock

Responden menyatakan, struktur lama dengan kebijakan yang terfragmentasi dan model penyediaan (delivery models) usang kini menimbulkan risiko terbesar.

BACA JUGA:Bangun Generasi Sehat, Billy Martasandy Berbagi Ilmu Cara Pendekatan Psikologi pada Anak

Salah satu analisis menemukan bahwa lebih dari 1 dari 10 megaproyek global menghadapi penundaan signifikan atau bahkan pembatalan. Era infrastruktur sebagai sebuah sistem terintegrasi telah tiba, dan organisasi di sektor publik maupun swasta harus mampu menciptakan kembali cara mengelola kompleksitas demi membuka potensi ekonomi baru serta menghindari rentetan kegagalan sistemik (cascading failures).

Cakupan investasi semakin meluas, namun 31 persen responden menyebutkan keterbatasan anggaran, serta 22 persen menyebutkan ketidakjelasan rencana implementasi serta imbal hasil investasi (return on investment/ROI) sebagai hambatan dalam merealisasikan proyek. Kebijakan, regulasi, dan proses perizinan yang rumit (39 persen), serta proses pengadaan yang kompleks (29 persen), dinilai sebagai kendala utama dalam pelaksanaan proyek.

Sebanyak 60 persen pemerintah memprioritaskan ketahanan siber, tetapi hanya 33 persen yang berinvestasi dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana alam dan cuaca ekstrem, meskipun 56 persen menyebut cuaca ekstrem sebagai risiko utama.

Infrastruktur fisik dan digital kini semakin menyatu dan saling bergantung, membentuk sistem yang kompleks.

BACA JUGA:Program MBG Bikin Siswa Lebih Rajin Datang ke Sekolah?

Perkembangan ini menuntut perubahan mendasar dalam cara negara dan organisasi merencanakan, membiayai, dan membangun aset infrastruktur strategis.

Sistem yang saling terhubung 

Infrastruktur kini berkembang dari aset-aset yang berdiri sendiri menjadi sistem yang saling terhubung (system of systems). Solusi fisik dan digital semakin bergantung satu sama lain.

Survei global Deloitte menemukan bahwa 69 persen pemimpin memperkirakan peningkatan permintaan terhadap infrastruktur pintar dan saling terhubung, sementara 45 persen responden secara global mengidentifikasi ketergantungan lintas sistem sebagai tantangan utama. Seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas (68 persen) dan energi (64 persen), para pemimpin perlu menerapkan model baru untuk koordinasi, visibilitas, dan perencanaan bersama yang melampaui batas organisasi dan sektor.

Tantangan bergeser dari sekadar memperoleh akses terhadap modal menjadi mencocokkan jenis pendanaan dengan kebutuhan dan risiko setiap proyek. Ini seiring dengan meluas dan beragamnya prioritas investasi infrastruktur.

BACA JUGA:Pasar Global Bergejolak, Rupiah Melemah, Reliance Sekuritas Malah Cetak Transaksi Saham Rp 5,41 Triliun

Anggaran terbatas kendala utama

Survei Deloitte menemukan bahwa 31 persen pemimpin menyebut keterbatasan anggaran sebagai hambatan utama. Sementara itu, banyak proyek, terutama di bidang infrastruktur digital, energi, dan sosial yang membutuhkan model pendanaan yang disesuaikan dengan kebutuhan serta strategi berbagi risiko, bukan pendekatan pembiayaan yang seragam.