Survei Deloitte 2026 Ungkap Peran Integrasi, AI, dan Kompleksitas dalam Membentuk Lanskap Infrastruktur Global
Ilustrasi: Laporan 2026 Future of Infrastructure Survey dari Deloitte menunjukkan, investasi infrastruktur meningkat pesat di berbagai kategori aset di seluruh dunia, mulai dari infrastruktur dan jaringan digital; energi, air, dan utilitas lainnya. --Shutterstock
Model pendanaan yang efektif kemungkinan bergantung pada kombinasi sumber pendanaan publik dan swasta, pengembangan portofolio proyek yang layak investasi, serta pembagian risiko yang seimbang agar proyek dapat direalisasikan dalam skala besar.
Kompleksitas regulasi tantangan terbesar
Proses perizinan, pengadaan, dan regulasi yang rumit kini menjadi hambatan utama dalam realisasi proyek infrastruktur. Survei Deloitte menunjukkan, 39 persen pemimpin secara global menyebut kompleksitas regulasi sebagai tantangan terbesar dalam implementasi, sementara hambatan institusional memperlambat proyek bahkan setelah pendanaan diperoleh.
Penyederhanaan proses persetujuan dan pemanfaatan AI untuk mengotomatisasi berbagai tugas, yang saat ini menjadi prioritas bagi 36 persen organisasi dan diperkirakan meningkat menjadi 42 persen dalam tiga tahun ke depan, akan menjadi kunci untuk mengatasi penundaan sistemik dan merealisasikan proyek dalam skala besar.
BACA JUGA:Saham RELI Tertekan tapi Bisnis Inti Melonjak, Rahasia Reliance Sekuritas Jaga Laba Tetap Positif
Survei Deloitte menunjukkan 60 persen responden dari kalangan pemerintah memprioritaskan keamanan siber, menjadikannya area investasi utama. Namun, hanya 33 persen yang menempatkan ketahanan terhadap perubahan iklim sebagai prioritas utama, meskipun 56 persen mengakui bahwa cuaca ekstrem merupakan ancaman terbesar bagi infrastruktur. Menutup kesenjangan ketahanan ini membutuhkan pendekatan menyeluruh yang menangani risiko berantai di ranah digital maupun fisik.
AI lapisan operasional infrastruktur
AI memungkinkan peningkatan kinerja sistem secara berkelanjutan dan pengambilan keputusan yang lebih tepat.
Survei Deloitte menunjukkan bahwa 61 persen responden menyebut pemeliharaan prediktif (predictive maintenance) sebagai penerapan AI yang paling banyak digunakan saat ini. Dalam tiga tahun ke depan, 44 persen pemimpin berencana memperluas pemanfaatan AI untuk memprediksi kebutuhan energi, sementara 40 persen berencana menerapkannya dalam logistik rantai pasok.
Namun, 34 persen pemimpin mengidentifikasi keterbatasan talenta di bidang teknologi, khususnya AI dan keamanan siber, sebagai salah satu hambatan utama dalam memperluas penerapan inovasi ini.
BACA JUGA:OJK Tuntaskan Penyidikan Tindak Pidana Perbankan di PT BPR DCN Malang
Guna mengoptimalkan manfaat AI di sepanjang siklus hidup infrastruktur, organisasi perlu membangun fondasi yang kuat dalam pengelolaan data, tata kelola, dan pengembangan tenaga kerja.