KWI Soroti Luka Sosial di Papua hingga 'Bumerang' Food Estate: Demokrasi Kita Sedang Mundur?

KWI Soroti Luka Sosial di Papua hingga 'Bumerang' Food Estate: Demokrasi Kita Sedang Mundur?

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengeluarkan seruan pastoral dalam rangka memperingati 118 tahun Hari Kebangkitan Nasional, Rabu, 20 Mei 2026.-Weradio.co.id-YouTube Tribunnews Update

KWI meminta pemerintah untuk rendah hati mengevaluasi, merevisi, atau bahkan membatalkan program kerakyatan yang justru mengganggu stabilitas ekonomi dan sosial masyarakat.

BACA JUGA:Sinyal Perubahan Vatikan, Paus Leo Kembalikan Tradisi Klasik dan Rombak Jabatan Penting

Evaluasi Proyek Flores dan Food Estate Papua

Secara spesifik, KWI menyoroti luka panjang yang dialami masyarakat di Tanah Papua. Menurut KWI, pendekatan keamanan terbukti bukan jalan cepat dan tepat untuk menyelesaikan konflik lintas generasi di sana.

Papua membutuhkan pendekatan yang manusiawi, dialogis, dan menghormati hak dasar masyarakat adat.

Lebih lanjut, KWI memperingatkan bahwa proyek-proyek strategis nasional yang mengabaikan konsultasi publik, seperti proyek panas bumi di Flores dan proyek pangan (food estate) di Papua, dapat menjadi bumerang bagi negara jika terus dijalankan dengan pendekatan yang eksploitatif dan top down.

Seruan Gotong Royong dan Pesan Paus

Menutup seruan tersebut, KWI mengajak seluruh lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif untuk kembali menghidupkan semangat gotong royong dan nilai Pancasila.

BACA JUGA:Peristiwa Bersejarah, Indonesia Tampil Perdana di Pameran 100 Gua Natal di Vatikan

Semangat ini selaras dengan pujian yang pernah disampaikan oleh Sri Paus Fransiskus saat berkunjung ke Indonesia pada September 2024 lalu.

KWI juga mengutip pesan perdana Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik yang baru terpilih pada 8 Mei 2025, Bapa Suci Paus Leo XIV, yang mengajak seluruh umat manusia untuk membangun jembatan kasih melalui dialog dan perjumpaan demi terciptanya perdamaian.

"Kebangkitan nasional mengajarkan bahwa Indonesia hanya dapat berdiri kokoh apabila seluruh rakyat merasa menjadi bagian dari kehidupan bersama, bukan tersisih di pinggir pembangunan," pungkas Mgr. Antonius Subianto Bunjamin.