Geger 'Kuburan Massal' Media Cetak, Ini Rahasia Biar Tidak Gulung Tikar di Era Medsos

Geger 'Kuburan Massal' Media Cetak, Ini Rahasia Biar Tidak Gulung Tikar di Era Medsos

Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Jaya, Bagus Sudarmanto-Weradio.co.id-Joko Dolok

BACA JUGA:39 Wartawan Perkuat Integritas Profesionalisme lewat OKK PWI Jaya Angkatan Ke-24

Sisi Gelap Informasi Tanpa Filter

Kebebasan memproduksi informasi ini bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, digitalisasi membuka ruang demokrasi, jurnalisme warga, dan pengawasan kolektif terhadap kekuasaan.

Namun di sisi lain, arus informasi tanpa filter ini melahirkan era post-truth.

"Saat ini terjadi dominasi sentimen emosi yang memicu matinya fakta objektif," ujar Bagus dalam paparannya.

Bahaya sosial (social harm) yang mengintai akibat fenomena ini meliputi

BACA JUGA:Kolaborasi PWI Jaya dan Sektor Perbankan, MHT 2026 Hadirkan Kategori Khusus Bank Jakarta

Kepanikan Moral (Moral Panic), yaitu kepanikan massal di masyarakat yang dipicu oleh penyebaran informasi palsu.

Kedua, Polarisasi Ekstrem, yaitu terbelahnya pandangan masyarakat ke dalam kubu 'Kita vs Mereka'.

Ketiga, Segregasi, yaitu pemisahan kelompok masyarakat akibat terjebak dalam ruang gema (echo chamber) opini.

Keempat, Anomi, yaitu kehilangan norma sosial dan pegangan moral yang objektif.

BACA JUGA:Menyongsong 5 Abad Jakarta, MHT 2026 Jadi Ruang Refleksi dan Dokumentasi Perjalanan Ibu Kota

Kondisi ini diperparah dengan krisis bisnis yang berdampak langsung pada nasib para pekerja pers.

Jurnalis masa kini dihadapkan pada ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, tuntutan lalu lintas digital (traffic clickbait), hingga ancaman otomatisasi oleh kecerdasan buatan (AI) generatif.

Strategi Jitu untuk Bertahan

Berita Terkait