Geger 'Kuburan Massal' Media Cetak, Ini Rahasia Biar Tidak Gulung Tikar di Era Medsos
Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Jaya, Bagus Sudarmanto-Weradio.co.id-Joko Dolok
JAKARTA, Weradio.co.id - Industri media tradisional saat ini sedang menghadapi badai besar yang mengancam eksistensinya.
Fenomena jatuhnya raksasa media cetak, baik di kancah global maupun nasional, menjadi bukti nyata adanya pergeseran masif ke era digital.
Hal ini dibahas secara mendalam oleh Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Jaya, Bagus Sudarmanto, dalam acara Sharing Session Journalistic yang digelar Pokja PWI Wali Kota Jakarta Utara di Ruang Bahari Lantai 14, Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Senin, 6 Juli 2026.
Acara Sharing Session Journalistic tersebut secara resmi dibuka oleh Wali Kota Jakarta Utara, Hendra Hidayat.
BACA JUGA:Heboh Era Digital, Apakah Kebebasan Pers Ada Batasnya? Ini Fakta Hukumnya!
Bagus memaparkan, runtuhnya media tradisional diawali dengan krisis sistemik di Amerika Serikat pada 2009.
Sejumlah media besar seperti The Rocky Mountain News terpaksa tutup. Sementara itu, koran legendaris sekelas New York Times terlilit utang hingga US$ 225 juta.
Efek domino ini pun merambah ke Indonesia. Tren penurunan tiras cetak yang tajam pada periode 2011 - 2012 menjadi awal mula munculnya 'kuburan raksasa' bagi media cetak tanah air.
Gelombang penghentian edisi cetak terus berlanjut hingga dekade berikutnya, menumbangkan nama-nama besar seperti Sinar Harapan (2015), Jakarta Globe (2015), Tabloid Bola (2018), Koran Tempo (2020), hingga Harian Republika (2022).
BACA JUGA:Begini Perbedaan Media Pers dan Media Sosial yang Jarang Disadari Orang, Awas Kena UU ITE
Era Baru
Menurut Bagus, lanskap informasi modern telah berubah total. Peran jurnalis sebagai penjaga gerbang informasi (gatekeeper) kini kian tergerus.
Perbedaan mendasar antara media lama (old media) dan media baru (new media) terletak pada kecepatan dan pola komunikasinya.
Jika dahulu informasi bersifat tertunda (postponed) dan satu arah (one way), kini media baru berbasis internet bekerja secara waktu nyata (real time) dan interaktif.
Dampaknya, masyarakat tidak lagi hanya menjadi konsumen, melainkan bertransformasi menjadi prosumer alias pihak yang mengonsumsi sekaligus memproduksi konten atau berita sendiri melalui media sosial.