Prof. Angel Damayanti Tegaskan, Gim Daring Bukan Pemicu Utama Radikalisasi

Prof. Angel Damayanti Tegaskan, Gim Daring Bukan Pemicu Utama Radikalisasi

Guru Besar Ilmu Keamanan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia (FISIPOL UKI) sekaligus Rektor UKI periode 2026–2030, Prof. Angel Damayanti, S.IP., M.Si., M.Sc., Ph.D-weradio.co.id-BNPT

JAKARTA, Weradio.co.id – Perkembangan teknologi digital kini menghadirkan tantangan baru dalam upaya penanggulangan intoleransi, radikalisme, dan terorisme.

Ruang gim daring (online game) yang sejatinya diciptakan sebagai sarana hiburan kini berpotensi disusupi oleh narasi ekstremisme berbasis kekerasan.

Fenomena ini menjadi perhatian serius para akademisi dan pengamat keamanan internasional, mengingat kelompok radikal terus mengadaptasi strategi rekrutmen mereka di media digital.

Guru Besar Ilmu Keamanan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia (FISIPOL UKI) sekaligus Rektor UKI periode 2026–2030, Prof. Angel Damayanti, S.IP., M.Si., M.Sc., Ph.D., menegaskan, gim daring pada dasarnya bukan pemicu utama radikalisasi. Namun, kerentanan tetap ada ketika fitur di dalamnya disalahgunakan.

BACA JUGA:Polres Bengkulu Utara Gelar OSN, 34 Orang Jalani Tes Urine dan 222 Botol Miras Diamankan

“Game online bukanlah penyebab langsung terjadinya radikalisme karena kebanyakan pemain tidak memiliki hubungan dengan ekstremisme. Risiko muncul ketika media ini dimanfaatkan untuk menyebarkan kebencian, menormalisasi kekerasan, membangun loyalitas eksklusif, dan merekrut individu yang rentan seperti remaja dan anak muda,” ujar Prof Angel di Jakarta, Sabtu, 17 Oktober 2026.

Menurut Peneliti Senior pada Center for Security and Foreign Affairs (CESFAS) UKI ini, kerentanan tersebut dipicu oleh interaksi sosial berulang yang membangun ikatan emosional, identitas anonim, serta keleluasaan pemain dalam merancang skenario atau simbol permainan.

Pemanfaatan gim daring oleh kelompok radikal sebenarnya telah terdeteksi sejak dekade 1980-an, hingga akhirnya berkembang pesat pada era digital saat ini. Ia mengungkapkan, pada tahun 2014, ISIS mulai menggunakan permainan online seperti Call of Duty untuk mendapatkan perhatian masyarakat luas dan memulai propagandanya.

Risiko game online menjadi semakin besar ketika sejak tahun 2020 permainan dapat dikustomisasi.

BACA JUGA:Lima Juri Akhir FFW 2026 Mulai Bekerja, Film dan Sineas Terbaik Indonesia di Tangan Mereka

“Oktober 2025, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengonfirmasi adanya pola rekrutmen di mana anak-anak muda diarahkan dari platform gim menuju grup pesan tertutup seperti WhatsApp atau Telegram untuk komunikasi yang lebih intensif,” terangnya.

Ia menambahkan, secara khusus, jenis gim yang terbuka dan bisa diakses secara bebas oleh berbagai tingkatan usia, mengagungkan simulasi militer atau peperangan, serta memungkinkan pembuatan konten sendiri menjadi sarana yang paling rentan disusupi.

Menghadapi ancaman ini, kontranarasi dan perlindungan di tingkat keluarga menjadi fondasi utama. Orang tua dituntut aktif mengenali gim yang dimainkan anak, membuat aturan penggunaan perangkat digital, mengaktifkan fitur keselamatan, serta membangun komunikasi terbuka tanpa menghakimi.

Prof. Angel Damayanti menekankan urgensi peran keluarga dengan menyatakan, bahwa penting bagi orang tua untuk memperhatikan perubahan mendadak seperti anak mulai mengisolasi diri, munculnya kebencian intens terhadap kelompok tertentu, atau keterlibatan dalam komunitas yang memuja kekerasan.

Berita Terkait