Tokoh Lintas Agama dan Organisasi Sipil Serukan Pemulihan Bangsa
Di tengah rangkaian krisis ekologis, bencana alam, ketidakpastian ekonomi, dan polarisasi sosial, sejumlah tokoh lintas agama bersama organisasi masyarakat sipil menyerukan solidaritas kemanusiaan.-Weradio.co.id-IST
JAKARTA, Weradio.co.id — Di tengah rangkaian krisis ekologis, bencana alam, ketidakpastian ekonomi, dan polarisasi sosial, sejumlah tokoh lintas agama bersama organisasi masyarakat sipil menyerukan solidaritas kemanusiaan.
Seruan ini disampaikan dalam kegiatan bertajuk Suara Keprihatinan dan Doa Pemulihan Bangsa di GPIB Immanuel Gambir, Jakarta Pusat, Selasa, 27 Oktober 2026.
Acara yang dimulai pukul 15.00 WIB tersebut dihadiri sekitar 100 peserta. Hadir dalam kesempatan itu perwakilan umat dan tokoh lintas agama, pimpinan gereja, aktivis lingkungan, serta pegiat kemanusiaan.
Mereka berkumpul untuk merefleksikan kondisi bangsa, mendoakan masyarakat terdampak krisis, serta memperkuat komitmen terhadap perdamaian, keadilan, dan kelestarian lingkungan.
BACA JUGA:OUE REIT Milik Mochtar Riady Tambah Kepemilikan di Gedung Tertinggi Sydney Senilai Rp 9,8 Triliun
Gerakan ini diinisiasi oleh Departemen Germasa dan Lingkungan Hidup GPIB bersama sejumlah lembaga, antara lain Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Institut WJ Rumambi, WWF Indonesia, Interfaith Rainforest Initiative (IRI), Eco Bhinneka Muhammadiyah, Ummah for Earth, Eksekutif Nasional WALHI, Forest Watch Indonesia (FWI), serta Indonesian Working Group on Forest Finance (IWGFF).
Koalisi penyelenggara menilai pembangunan nasional tidak boleh hanya berorientasi pada aspek fisik dan pertumbuhan ekonomi semata. Pemulihan bangsa juga menuntut perhatian serius terhadap kemanusiaan, keadilan, tata kelola pemerintahan, persaudaraan sosial, dan keberlanjutan lingkungan.
Soroti Krisis Ekologis dan Kemanusiaan
Salah satu isu utama yang disoroti adalah krisis ekologis, termasuk kebakaran hutan dan lahan di Sumatera, Kalimantan, Papua, Jawa, dan Maluku, serta aktivitas vulkanik di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire).
Penyelenggara menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak sekadar fenomena alam, tetapi berkaitan erat dengan keselamatan manusia dan kebijakan publik.
BACA JUGA:Indonesia dan Takhta Suci Vatikan Sepakat Internasionalisasikan Pancasila demi Perdamaian Dunia
Head of Project Ummah for Earth di Greenpeace Indonesia, Riska Rahman, menekankan pentingnya langkah konkret pemerintah dalam melindungi masyarakat dari dampak krisis iklim.
Menurutnya, asap akibat kebakaran hutan dan lahan tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga melintasi batas wilayah hingga negara tetangga serta mengancam kesehatan masyarakat.
Selain krisis lingkungan, koalisi juga menyoroti tragedi kemanusiaan, kecelakaan transportasi, tantangan ekonomi kerakyatan, potensi polarisasi politik, dan kasus korupsi yang merusak kepercayaan publik. Seluruh persoalan tersebut dinilai memerlukan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.
Agama sebagai Kekuatan Pemersatu
Dalam kesempatan yang sama, para pemimpin agama menegaskan peran penting agama sebagai kekuatan moral untuk membela martabat manusia dan merawat alam.