Dari Operator Telepon hingga Menembus Gerbang Istana, Menguak Kisah Inspiratif Wartawan Radio Sonora

Dari Operator Telepon hingga Menembus Gerbang Istana, Menguak Kisah Inspiratif Wartawan Radio Sonora

Penulis Buku Operator Telepon Jadi Wartawan Kepresidenan: 25 Tahun Berkarya di Radio Sonora, Stanislaus Jumat Sudiyana (kiri) menangis terharu saat didampingi editor, Doktor Algooth Putranto (kanan) di sela acara bedah buku di PWI Jaya, Jakarta, Jumat, 30-Weradio.co.id-Joko Dolok PWI Jaya

BACA JUGA:Terkuak, Rahasia Musik Sore Terinspirasi dari 6 Buku Tak Terduga Ini

"Ketidakseriusan itu tampak, tapi tetap ada sesuatu semangat nawaitu. Setiap orang punya jejak. Ada orang seperti Jumar, walaupun tidak serius, tapi berani menanamkan fondasi untuk memperkuat budaya membaca. Selamat untuk Jumar," kata Mayong memberikan apresiasi.

Lebih lanjut, Mayong menekankan bahwa kualitas sebuah buku harus senantiasa dijaga, baik dari segi substansi maupun tampilan visualnya. Buku yang baik perlu melalui pengujian yang matang.

"Buku perlu diuji secara isi dan desain," tegasnya.

Di penghujung pesannya, Mayong mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali menjadikan buku sebagai bagian dari keseharian.

BACA JUGA:Romo Yos Bintoro Serahkan Buku, KSAD Dukung Pelayanan Keuskupan TNI - Polri

Upaya ini dinilai krusial di tengah peradaban modern yang kian tergerus oleh instannya informasi digital.

"Penting mempertahankan budaya membaca buku, saat ini peradaban makin tergerus," kata Mayong.

Enam Pemikiran Penting

Diskusi buku ini menyoroti enam pokok pemikiran penting, mulai dari proses merintis karier tanpa jalan pintas, pentingnya menjaga integritas dan independensi, seperti pengalaman Jumar menolak amplop narasumber demi tetap leluasa bersuara di udara, hingga pengalaman berharga meliput Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada periode 2012–2014.

Selain itu, buku ini juga memuat pesan mendalam tentang pentingnya pendidikan, transformasi radio di era digital, serta konsistensi dalam menjaga prinsip demi meraih penghormatan publik.

 

Melalui acara ini, PWI Jaya berharap semakin banyak wartawan terdorong untuk mendokumentasikan pengalaman jurnalistik mereka agar tidak hilang ditelan waktu.