Menggugat Paradigma Kesuksesan Mudik Lebaran

Menggugat Paradigma Kesuksesan Mudik Lebaran

Pagu Anggaran Kegiatan Buy The Service (dalam miliar)-Weradio.co.id-DOK IST

Oleh: Djoko Setijowarno (*) 

Wajah mudik Indonesia telah mengalami transformasi besar seiring masifnya pembangunan infrastruktur jalan bebas hambatan. Namun, di balik permukaan jalan yang mulus, tersimpan tantangan baru dalam mendefinisikan arti kesuksesan mudik yang sesungguhnya.

Berdasarkan Survei Angkutan Lebaran 2026 yang dilakukan Kementerian Perhubungan bersama BPS, Kemenkomdigi, dan LAPI ITB, diprediksi sebanyak 143,9 juta orang akan melakukan perjalanan mudik.

Menariknya, mayoritas pemudik masih mengandalkan kendaraan pribadi dengan persentase mencapai 69,72% (100,32 juta orang). Dari angka tersebut, mobil pribadi mendominasi sebesar 52,98%, disusul sepeda motor sebesar 16,74%.

Untuk transportasi umum, bus menjadi pilihan utama (16,22%/23,34 juta), diikuti oleh kapal penyeberangan (4,45%/6,40 juta) dan pesawat terbang (3,46%/5,98 juta). Sisanya terbagi dalam moda kereta api antarkota (3,33%/4,79 juta), KA perkotaan (1,51%/2,17 juta), kapal laut (0,64%/926, 12 ribu), hingga Kereta Cepat (0,47%/ 682,90 ribu).

Selama ini, parameter kesuksesan mudik Lebaran ditentukan oleh sejauh mana aspek kenyamanan, keamanan, dan keselamatan pengguna jalan terpenuhi secara optimal. Hasilnya, tingkat kenyamanan dan keamanan terus membaik, dibarengi dengan angka kecelakaan yang kian menurun.

Sejak tersambungnya Tol Trans Jawa dari Jakarta hingga Surabaya, arus mudik kini jauh lebih lancar. Ditambah lagi dengan penerapan rekayasa lalu lintas seperti arus berlawanan arah (contraflow) dan arus searah (one way) yang terbukti efektif mengurai kepadatan.

Kabar mengenai pemudik yang harus bermalam di jalan akibat macet total kini tinggal kenangan. Meski perjalanan belum sepenuhnya bebas hambatan karena lonjakan volume kendaraan yang tidak sebanding dengan kapasitas jalan, setidaknya arus lalu lintas tetap bergerak dan kondisinya jauh lebih terkendali.

Menyambut Mudik Lebaran 2026, pemerintah menyiagakan enam ruas tol fungsional baru untuk mengurai kepadatan. Di Pulau Jawa, empat ruas siap dioperasikan, meliputi Tol Jakarta-Cikampek II Selatan (54,75 km), Tol Probolinggo-Banyuwangi (49,68 km), serta dua akses kunci di Jawa Tengah, Tol Jogja-Solo segmen Prambanan-Purwomartani (11,48 km) dan Tol Jogja-Bawen segmen Ambarawa-Bawen (4,85 km). Sementara itu, di Pulau Sumatera diperkuat dengan tambahan 77,55 km jalan tol melalui Sigli-Banda Aceh Seksi 1 (21,95 km) serta ruas Palembang-Betung Seksi 1 dan 2 (53,6 km).

Pemudik yang memilih jalur tol dapat terhindar dari berbagai hambatan samping, mulai dari hiruk pikuk pasar tumpah dan aktivitas lalu lintas lokal, hingga moda transportasi tradisional seperti delman, becak, serta kepadatan sepeda motor.

Indikator keberhasilan mudik Lebaran kini perlu didefinisikan ulang. Tolok ukurnya bukan lagi sekadar kelancaran lalu lintas, melainkan sejauh mana pemudik beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum, serta seberapa signifikan penurunan penggunaan sepeda motor untuk perjalanan jarak jauh.

Tingginya ketergantungan pada kendaraan pribadi sebenarnya berakar dari masih terbatasnya layanan transportasi umum di daerah tujuan. Tanpa konektivitas yang memadai di titik akhir (last mile), masyarakat merasa kendaraan pribadi adalah pilihan paling praktis untuk mobilitas di kampung halaman.

Di sisi lain, minimnya akses transportasi umum di daerah tujuan memaksa pemudik tetap mengandalkan kendaraan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor, untuk menunjang mobilitas mereka di kampung halaman.

Sudah saatnya kita meninjau ulang efektivitas survei kepuasan pemudik. Survei tersebut tak lagi objektif karena hasilnya pasti tinggi, mengingat kelancaran tol kini telah menjadi standar minimum. Angka kepuasan ini hanyalah 'kepuasan semu' yang gagal memotret buruknya integrasi moda transportasi massal kita.