RIP atau Doa? Menggugat Budaya Instan dalam Ungkapan Dukacita
Requiescat in Pace-Weradio.co.id-Febry Silaban
Kita hidup pada zaman di mana segala sesuatu cenderung dipermudah dan dipersingkat. Namun, tidak semua hal layak diperlakukan demikian, terutama hal-hal yang menyangkut iman, kehidupan, dan kematian. Dukacita bukan sekadar momen sosial, melainkan ruang sakral di mana kita diingatkan akan kefanaan hidup dan harapan akan kehidupan kekal.
Maka, di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang sering kali menipiskan makna, marilah kita menjadi pribadi yang berani berbeda. Marilah kita kembalikan frasa ini ke tempat asalnya yang mulia: sebagai doa kerendahan hati manusia yang menyadari bahwa keselamatan adalah anugerah.
Mengembalikan makna RIP bukan soal bahasa semata, melainkan soal iman. Ini adalah undangan untuk kembali menyadari bahwa setiap kata yang kita ucapkan, terutama dalam konteks kematian, memiliki bobot spiritual. Ini adalah panggilan untuk tidak membiarkan doa menjadi sekadar slogan.
ERGO
Pada akhirnya, mungkin yang perlu kita tanyakan bukanlah “apa yang harus kita tulis ketika seseorang meninggal”, melainkan “apakah kita sungguh mendoakannya”. Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan oleh mereka yang telah berpulang bukanlah komentar kita, melainkan doa kita.
RIP lahir dari hati Gereja yang penuh belas kasih, bukan tombol handphone yang dingin. Dengan memahami requiescat in pace sebagai doa tulus, kita bisa ubah kebiasaan buruk jadi kesempatan evangelisasi.
Kematian adalah peristiwa yang sangat personal dan sakral. Jangan biarkan ia larut dalam hiruk-pikuk budaya instan yang serba dangkal. Singkatan memang memudahkan komunikasi, tetapi doa tidak pernah mengenal jalan pintas.
Sebab, pada akhirnya, ketika giliran kita yang berbaring di dalam peti mati nanti, tentu kita tidak ingin jiwa kita hanya disapa dengan sebuah singkatan atau sticker RIP yang dikirim sambil lalu, bukan? Kita tentu merindukan doa yang tulus, yang diketik dengan hati, bukan sekadar jempol yang mencari praktisnya saja.
(*) Penulis Rohani