Sinyal Perubahan Vatikan, Paus Leo Kembalikan Tradisi Klasik dan Rombak Jabatan Penting
Paus Leo XIV-Weradio.co.id-Reuters
VATIKAN, Weradio.co.id - Pekan Suci 2026 menjadi momentum krusial bagi kepemimpinan Paus Leo XIV.
Melalui serangkaian keputusan liturgi dan perombakan personel di lingkungan Takhta Suci, Paus Leo XIV mulai menunjukkan arah kepausannya yang lebih menekankan pada pemulihan tradisi dan pembersihan citra internal Vatikan.
Langkah-langkah yang diambil selama Triduum Paskah ini dinilai banyak pengamat sebagai upaya untuk 'menyembuhkan luka' lama dan memperkuat kendali administratif di Istana Apostolik.
Tradisi Benediktus XVI
Berbeda dengan pendahulunya, Paus Fransiskus, yang sering mengadakan Misa Perjamuan Tuhan di penjara atau pusat pengungsian, Paus Leo XIV memilih untuk mengembalikan tradisi klasik.
BACA JUGA:Tanpa Sadar Kita Merusak Bumi? Mengenal Apa Itu Jejak Karbon dan Cara Mudah Menguranginya
Untuk pertama kalinya sejak 2012, Misa Kamis Putih dilaksanakan kembali di tempat resminya, yakni Basilika Lateran.
Paus Leo juga memutuskan bahwa upacara pembasuhan kaki (Mandatum) hanya diikuti oleh para imam.
Kebijakan ini secara simbolis memperkuat kembali hubungan antara ritual tersebut dengan sakramen imamat, sekaligus memperbaiki hubungan dengan klerus di Keuskupan Roma yang sebelumnya sempat merenggang karena keterbatasan akses pada seremoni-seremoni terdahulu.
Ketangguhan fisik Paus Leo juga menjadi sorotan. Pada prosesi Jalan Salib di Koloseum hari Jumat Agung, ia memilih memikul salib sendiri melalui seluruh perhentian.
BACA JUGA:Rumah Doa Disegel Pemda Tangerang, LBH Gekira Siap Tempuh Langkah Hukum
"Ini adalah tanda penting bagi dunia; suara yang menyatakan bahwa Kristus masih menderita hingga saat ini," ujar Paus Leo XIV kepada awak media.
Perombakan 'Kabinet' Vatikan
Di balik layar liturgi yang megah, Paus Leo melakukan langkah taktis dengan merombak struktur personel di Sekretariat Negara dan Rumah Tangga Kepausan. Tiga penunjukan kunci diumumkan pada awal pekan ini:
Pertama, Uskup Agung Paolo Rudelli ditunjuk sebagai Sostituto (orang nomor dua di Sekretariat Negara), menggantikan Uskup Agung Peña Parra.