Media sebagai Lingkungan dalam Representasi Ekologis Ikan Sapu-Sapu pada Produksi Dokumenter Televisi
Muhammad Abdan Syakuro. --Dok/Pribadi
Muhammad Abdan Syakuro (*)
Perkembangan media digital telah mengubah cara manusia mengakses dan memahami informasi. Konten yang sebelumnya diproduksi untuk televisi kini tidak lagi berhenti di layar kaca, tetapi terus beredar melalui platform digital seperti YouTube.
Dalam proses ini, media tidak hanya berfungsi sebagai saluran distribusi, tetapi juga menjadi lingkungan yang membentuk cara manusia memahami realitas, termasuk isu lingkungan. Salah satu isu yang cukup banyak mendapat perhatian adalah fenomena ikan sapu-sapu sebagai spesies invasif di perairan Indonesia.
Isu ini tidak hanya muncul dalam satu bentuk produksi media, tetapi juga terus direproduksi dalam berbagai liputan, dokumenter, hingga konten jurnalistik. Salah satu tokoh yang banyak terlibat dalam pengangkatan isu ini adalah Arif Kamarudin, yang melalui berbagai liputan turut menjadikan fenomena ikan sapu-sapu sebagai isu lingkungan yang dibawa ke berbagai produk media.
Dalam berbagai produksi dokumenter televisi yang kemudian tersebar di platform digital, ikan sapu-sapu sering digambarkan sebagai spesies yang mengganggu keseimbangan ekosistem. Visualisasi sungai yang dipenuhi ikan, narasi tentang dominasi populasi, serta dampaknya terhadap ikan lokal menjadi pola yang berulang dalam berbagai liputan.
Proses ini menunjukkan bahwa isu lingkungan tidak berdiri sendiri, tetapi dibentuk melalui kerja media yang terus-menerus mereproduksi narasi yang sama dalam berbagai format. Dalam konteks ini, media tidak hanya merekam realitas, tetapi juga mengonstruksinya.
Seperti yang dijelaskan oleh Marshall McLuhan, media merupakan perpanjangan manusia yang membentuk cara berpikir dan memahami dunia. Artinya, ketika isu ikan sapu-sapu diproduksi dalam dokumenter televisi dan kemudian disebarkan ulang melalui YouTube, yang terjadi bukan sekadar distribusi informasi, tetapi juga pembentukan cara pandang publik terhadap isu tersebut sebagai krisis ekologis.
Peran tokoh seperti Arif Kamarudin dalam berbagai liputan memperkuat bagaimana isu ini masuk ke dalam arus utama media. Ketika suatu fenomena lingkungan diangkat berulang kali dalam berbagai produk media, ia tidak lagi hanya menjadi peristiwa biologis, tetapi berubah menjadi isu sosial yang memiliki nilai berita, nilai edukasi, sekaligus nilai visual yang menarik bagi publik.
Dari sini terlihat bahwa media memiliki kekuatan untuk mengangkat isu lingkungan dari level lokal menjadi konsumsi publik yang lebih luas. Namun, representasi ini juga tidak lepas dari proses seleksi. Dalam produksi dokumenter televisi, realitas selalu disusun kembali melalui pilihan gambar, narasi, dan sudut pandang tertentu.
Akibatnya, ikan sapu-sapu tidak hanya hadir sebagai spesies ikan, tetapi juga sebagai simbol dari gangguan ekologis yang dibingkai oleh media. Ketika konten ini beredar di platform digital, makna tersebut semakin meluas dan membentuk persepsi kolektif masyarakat.
Jika dilihat lebih dalam, fenomena ini sejalan dengan pemikiran Félix Guattari yang menjelaskan bahwa ekologi tidak hanya mencakup alam, tetapi juga relasi sosial dan cara berpikir manusia. Dalam kasus ikan sapu-sapu, krisis ekologis tidak hanya terjadi di perairan, tetapi juga dibentuk melalui cara media membingkai isu tersebut dan bagaimana masyarakat meresponsnya melalui konsumsi informasi.
Di sisi lain, penyebaran konten melalui media digital juga membawa konsekuensi material yang sering tidak terlihat. Aktivitas streaming video di YouTube melibatkan infrastruktur besar seperti server dan pusat data yang membutuhkan energi dalam jumlah besar. Hal ini menunjukkan bahwa media digital yang tampak “ringan” sebenarnya memiliki jejak ekologis yang nyata.
Dari keseluruhan fenomena ini, dapat dipahami bahwa media tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai lingkungan yang membentuk cara kita memahami krisis ekologis.
Peran tokoh media, produksi dokumenter televisi, serta distribusi melalui platform digital seperti YouTube menunjukkan bahwa isu ikan sapu-sapu telah bergerak dari fenomena lokal menjadi wacana media yang lebih luas.
(*) Penulis adalah Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta