Membangun Rasa untuk Melengkapi Jiwa
Sanga Adhitya Priagana atau akrab disapa Kang Adit (Kang Adit) sedang memberikan edukasi seni melukis kepada anak-anak di Barli Art Studio, Museum Barli, Bandung.-Weradio.co.id-Kang Adit
Aktivitas menggambar, dipahami Adit Barli sebagai medium sosialisasi nilai, di mana anak belajar mengenali diri, mengekspresikan emosi, serta memahami keberadaan orang lain tanpa tekanan penilaian.
Dalam konteks sosiologi hukum, praktik ini berkontribusi pada pembentukan budaya hukum sejak dini, karena anak dikenalkan pada nilai kebebasan berekspresi, penghargaan terhadap perbedaan, dan tanggung jawab atas pilihan visualnya.
Kegiatan menggambar di Barli Art Studio menggunakan sistem pendekatan individu, di mana hal tersebut guna melengkapi empat kemampuan dasar yang harus di miliki setiap karakter.
Pertama, kemampuan mengenali emosi. Kedua, kemampuan konsentrasi (focus). Ketiga, pembentukan logika dasar. Keempat, kemampuan tahapan berpikir atau melangkah (sequential thinking). Keempat kemampuan ini tidak tumbuh dari ceramah panjang, melainkan dari pengalaman sederhana yang dilakukan berulang-ulang dengan kesadaran. Di era digital seperti saat ini, tantangan terbesar bukan dari kurangnya informasi, melainkan kehilangan kehadiran.
Anak bisa menggeser layar dengan lincah, tetapi sulit duduk tenang dengan tubuhnya sendiri. Ia bisa menonton ratusan video, tetapi kesulitan mencipta satu gambar dari imajinasinya.
Ice breaking merupakan kegiatan awal saat anak pertama kali datang ke Barli Art Studio yang bertujuan mencairkan suasana psikologis, mengurangi kecemasan, serta membangun rasa aman sebelum anak terlibat dalam proses pembelajaran inti. Anak diajak untuk bercerita tentang pengalaman sehari-hari mereka, atau diajak untuk ikut permainan sederhana.
Anak kemudian diarahkan dan dibimbing cara duduk dengan posisi tegak dan nyaman, bukan sebagai bentuk disiplin kaku, melainkan untuk membantu anak mengenali tubuhnya sendiri dalam aktivitas menggambarnya, pengenalan cara memegang alat gambar, yaitu spidol.
Anak diarahkan untuk menggerakkan tangan dari poros bahu, bukan dari pergelangan tangan.
Teknik ini bukan sekadar soal estetika gambar, melainkan sebuah metode untuk melatih sinkronisasi antara pandangan mata dan tindakan fisik.
Dengan demikian, setiap gerakan yang dihasilkan merupakan hasil dari koordinasi tubuh yang disadari sepenuhnya. Cara tersebut untuk membantu anak mengenali tubuhnya sendiri dalam aktivitas menggambarnya
Metode ini memberikan pengaruh signifikan terhadap pematangan kemampuan motorik halus anak.
Melalui pembagian beban tubuh yang proporsional, tenaga anak tidak akan terbuang hanya untuk menyeimbangkan posisi, terlepas dari apakah mereka seorang kidal maupun pengguna tangan kanan.
Stabilitas fisik semacam ini secara linear berkontribusi pada ketenangan emosional dan ketajaman atensi selama beraktivitas seni.
Dengan postur yang ergonomis, efisiensi energi tetap terjaga, sehingga anak dapat mengalokasikan fokusnya secara penuh tanpa terganggu oleh kelelahan fisik akibat posisi duduk yang tidak tepat (Jossy S. Belgradoputra, 2025)
Pengaturan posisi tubuh ini memiliki implikasi sosiologis, karena menunjukkan bagaimana norma-norma kecil dalam ruang belajar dapat membentuk kebiasaan dan kesadaran diri anak secara berkelanjutan.