Lima Fakta Ancaman TPPO di Era Digital dan Tips Aman Cari Kerja Online
Ilustrasi Perempuan yang menjadi korban penipuan lowongan kerja (job dcam) online di dalam ruangan perdagangan manusia. --Shutterstock
JAKARTA, Weradio.co.id - Guna menghindari tindak penipuan lowongan kerja (job scam) dan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) Jobstreet by SEEK mempertegas komitmennya untuk melindungi pencari kerja di Indonesia maupun Asia Pasifik di era digital.
Untuk itu, Jobstreet by SEEK kembali bekerja sama dengan United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) dan berpartisipasi dalam Peringatan Hari Dunia Anti Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) bertema "Melawan TPPO di Era Digital" yang diselenggarakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) dengan dukungan UNODC dan International Organization for Migration (IOM) di One Satrio, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
Jobstreet merangkum lima fakta utama tentang ancaman TPPO yang difasilitasi teknologi, serta lima tips praktis agar pencari kerja tetap aman saat melamar kerja secara online.
Asia Tenggara meningkat
Data IOM menunjukkan kasus perdagangan orang untuk "forced criminality" yang terkait operasi online scam di Asia Tenggara meningkat dari 296 kasus pada 2022 menjadi 978 kasus pada 2023, sebelum turun menjadi 492 kasus pada 2024. Namun, angka 2024 tersebut tetap sekitar 66 persen lebih tinggi dibandingkan 2022 (IOM, Asia–Pacific Migration Data Report 2025).
Lintas negara
Kebanyakan korban direkrut melalui iklan lowongan palsu dan skema migrasi menyesatkan sebelum dipaksa bekerja di "scam compound" dan menjalankan penipuan daring sebagai bentuk kerja paksa.
Laporan PBB memperkirakan sedikitnya 120.000 orang di Myanmar dan sekitar 100.000 orang di Kamboja diperdagangkan dan dipaksa menjalankan operasi online scam (OHCHR). Korban dipindahkan lintas negara, identitas dan dokumen mereka ditahan, sementara aktivitas kejahatan disamarkan sebagai "pekerjaan digital" yang sah.
WNI terdampak
Laporan terbaru mencatat ribuan Warga Negara Indonesia (WNI) teridentifikasi dalam operasi online scam di Asia Tenggara, dengan lebih dari 3.200 WNI masuk dalam data kasus dan lebih dari 1.100 orang diidentifikasi sebagai korban perdagangan orang (US Department of State, Trafficking in Persons Report 2024 – Indonesia).
Kebanyakan dari mereka mengaku awalnya tertarik dengan tawaran kerja bergaji tinggi di luar negeri yang dipromosikan melalui pesan pribadi, grup chat, atau iklan tidak terverifikasi.
BACA JUGA:Kembali Tangani Ganda Campuran, Nova Widianto Diharapkan Angkat Lagi Prestasi
Ancam perempuan dan anak