Raih 1st Runner-up ASEAN Energy Awards 2026 Kategori Green Building, LNK Hemat Energi 35% dan Air 43%
raih penghargaan 1st Runner-up pada ajang ASEAN Energy Efficiency & Conservation (EE&C) Awards 2026 kategori Green Building. -weradio.co.id-LNK
JAKARTA, Weradio.co.id – PT Lautan Natural Krimerindo (LNK), salah satu perusahaan manufaktur krimer nabati terbesar di Asia Tenggara, meraih penghargaan 1st Runner-up pada ajang ASEAN Energy Efficiency & Conservation (EE&C) Awards 2026 kategori Green Building.
Penghargaan ini diserahkan pada malam puncak ASEAN Energy Awards di Manila, Filipina, Sabtu, 10 Oktober 2026, untuk Gedung Kantor Utama LNK di Mojokerto, Jawa Timur.
Gedung kantor pusat empat lantai dengan luas hampir 2.000 m² yang beroperasi sejak 2011 ini menjawab hampir seluruh aspek penilaian ASEAN EE&C Awards.
Aspek penilaian tersebut mencakup efisiensi energi, penggunaan energi terbarukan, efisiensi air, keberlanjutan lingkungan, kualitas udara dalam ruang, inovasi, hingga operasi dan pemeliharaan.
BACA JUGA:Keputusan VAR Tentukan Kemenangan Persija Jakarta dalam Duel Sengit Melawan Persik Kediri
“Di LNK, kami berkomitmen mewujudkan dunia yang lebih baik melalui pengelolaan energi yang efisien, tidak hanya dalam proses manufaktur, tapi juga dalam operasional perusahaan sehari-hari. Gedung ini menunjukkan bahwa efisiensi energi perlu menjadi bagian dari perencanaan sejak awal, bukan sekadar dicapai melalui penambahan teknologi, melainkan juga melalui desain bangunan yang tepat dan pengelolaan operasional yang berkelanjutan,” ujar Sulistyo Eko, Chief Operations Officer PT Lautan Natural Krimerindo.
Kinerja desain bangunan LNK juga telah dievaluasi menggunakan EDGE (Excellence in Design for Greater Efficiencies), alat sertifikasi bangunan hijau yang dikembangkan International Finance Corporation (IFC), anggota World Bank Group.
Penilaian EDGE dinilai dari 3 potensi efisiensi, yakni efisiensi energi, efisiensi air, dan penghematan energi yang terkandung dalam material. Hasilnya menunjukkan penghematan energi sekitar 35% dan air sekitar 43% dibandingkan bangunan konvensional.
Demi mencapai efisiensi energi, gedung LNK memadukan desain pasif dan aktif untuk mengurangi beban termal. Dari sisi desain pasif, bangunan yang menghadap timur ini memiliki proporsi bukaan jendela sekitar 30% dari luas dinding agar cahaya alami dapat masuk optimal tanpa menambah beban pendinginan.
BACA JUGA:OJK Jatuhkan Total Denda Rp 2,52 Triliun bagi Pelaku Pelanggaran di Pasar Modal
Fasadnya memadukan beton, batu alam, dan kaca Low-E untuk menahan panas, sementara taman dan kolam di sekeliling gedung membantu menurunkan suhu sekitar serta mendukung ventilasi alami. Dari sisi aktif, gedung menggunakan AC inverter dengan sensor okupansi, lampu LED, serta sensor gerak di toilet dan area umum.
Untuk konservasi air, LNK memasang perlengkapan sanitasi hemat air dan memanfaatkan kembali air buangan dari sistem reverse osmosis (RO) untuk kebutuhan non-minum dan irigasi taman. Sekitar 98% material konstruksi yang digunakan untuk membangun gedung ini bersumber dari dalam negeri sehingga mengurangi jejak karbon transportasi.
Tak hanya itu, LNK juga menggunakan alternatif energi baru terbarukan. Gedung ini ditopang pembangkit listrik tenaga surya(PLTS) berkapasitas 40,59 kWp yang menghasilkan sekitar74.000 kWh listrik bersih setiap tahun.
Produksi tersebut memenuhi sekitar 11% kebutuhan listrik gedung sekaligus mengurangi emisi sekitar 64 ton CO₂ per tahun. Yang membedakan gedung ini dari kantor pada umumnya adalah pengelolaan energi berbasis digital.