Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Ungkap Penyebab Longsor Sampah di TPST Bantargebang Bekasi

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Ungkap Penyebab Longsor Sampah di TPST Bantargebang Bekasi

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo (kemeja putih) saat meninjau lokasi longsor sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang, Kota Bekasi. Curah hujan tinggi jadi salah satu penyebab terjadinya longsor yang menyebabkan empat orang meningg--Instagram Pramono Anung

JAKARTA, Weradio.co.id -  Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, mengungkapkan penyebab longsor sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang menyebabkan empat orang meninggal dunia pada hari Minggu kemarin.

Menurut Pramono Anung, longsoran sampah di  TPST Bantargebang Desa Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, terjadi akibat curah hujan ekstrem.

Sebagaimana dilansir antaranews.com seperti dikutip Weradio.co.id, Pramono Anung mengatakan, “Kemarin itu (curah hujannya) 264 milimeter per hari. Itu termasuk salah satu curah hujan yang tinggi di Jakarta "

Menurut Pramono Anung, peristiwa longsor tersebut terjadi di zona 4A pada pukul 14.30 WIB. Dengan tingginya curah hujan tersebut, air pun masuk ke dalam gunungan sampah di Bantargebang. Akhirnya, kondisi sampah yang licin menyebabkan longsor di kawasan tersebut.

BACA JUGA:Dinas LH Jakarta Langsung Aktifkan Operasi Tanggap Darurat untuk Atasi Longsor Sampah di TPST Bantargebang

Kejadian itu, lanjut Pramono Anung, menyebabkan jalan operasional dan Sungai Ciketing sepanjang 40 meter tertutup sampah.

Pramono Anung meninjau secara langsung kondisi di Bantargebang pada pagi tadi. Dia segera meminta agar situasi di tempat tersebut segera dinormalkan kembali.

“Terutama Sungai Ciketing-nya, agar segera bisa normal kembali. Tempat itu begitu tertutup maka jalannya juga tertutup, di lapangan kelihatan sekali. Dan untuk itu segera akan dinormalkan kembali,” tegas Pramono.

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sudah mengaktifkan operasi tanggap darurat mulai hari Minggu, 8 Maret 2026. Tujuannya untuk memastikan keselamatan petugas.

BACA JUGA:Kasus Nabilah O'brien dan Zendhy Kusuma Berujung Damai

DLH DKI Jakarta juga melakukan penanganan korban, serta menstabilkan area agar layanan pengelolaan sampah dapat segera dipulihkan.

Pramono Anung menyampaikan, penanganan dilakukan oleh tim gabungan lintas instansi dengan melibatkan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Polda Metro Jaya, TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta dan Kota Bekasi, Pemadam Kebakaran (Damkar).

Selain itu, aparat di wilayah setempat dengan dukungan 19 ekskavator alat berat dan tujuh unit ambulans yang dioperasikan pada saat proses evakuasi.

Tanggung biaya korban