Waspada! Kasus Kekerasan Seksual Anak di Singapura Melonjak di 2025, Pelaku Orang Dekat?

Waspada! Kasus Kekerasan Seksual Anak di Singapura Melonjak di 2025, Pelaku Orang Dekat?

Sepanjang 2025, jumlah kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah usia 16 tahun mengalami kenaikan signifikan.-Weradio.co.id-Straitstimes.com

Para ahli mencatat beberapa ciri perilaku anak yang menjadi korban, antara lain

Menarik diri secara emosional, menghindari rutinitas harian, sering pulang terlambat ke rumah sebagai bentuk pelarian.

Kisah Mary dan Jane

Psikolog Klinis Dr Annabelle Chow menceritakan kasus Mary (nama samaran), yang diperkosa kerabatnya saat berusia delapan tahun. Meski kejadian tersebut sudah berlalu lebih dari 20 tahun, Mary masih menderita gangguan stres pascatrauma (PTSD) hingga kini.

BACA JUGA:Tanpa Sadar Kita Merusak Bumi? Mengenal Apa Itu Jejak Karbon dan Cara Mudah Menguranginya

"Ketika kekerasan dilakukan oleh anggota keluarga, itu adalah tingkat pengkhianatan yang berbeda. Hal ini merusak kemampuan mereka untuk mempercayai orang lain dalam jangka panjang," jelas Dr Annabelle Chow.

Kasus serupa dialami Jane (nama samaran), yang dilecehkan oleh ayah tirinya saat berusia 15 tahun.

Jane bahkan sempat menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian tersebut. Kasusnya baru terungkap setelah ia tertangkap melakukan pencurian kecil dan menjalani sesi konseling.

Fenomena Gunung Es

Dr John Shepherd Lim dari Singapore Counselling Centre memperingatkan, angka yang tercatat mungkin hanya fenomena gunung es. Banyak kasus yang tidak dilaporkan karena korban telah dimanipulasi oleh pelaku.

BACA JUGA:Rumah Doa Disegel Pemda Tangerang, LBH Gekira Siap Tempuh Langkah Hukum

"Beberapa pelaku melakukan grooming hingga korban percaya bahwa kekerasan tersebut adalah hal normal atau bahkan tanda cinta. Banyak korban yang bungkam karena tidak ingin membuat anggota keluarganya mendapat masalah hukum," tutur DrJohn Shepherd Lim.

Hingga saat ini, pihak berwenang dan para ahli kesehatan mental terus mengimbau masyarakat untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak dan segera melaporkan tindakan mencurigakan demi memutus rantai kekerasan dalam rumah tangga.