PBB Temukan Bukti Kuat Amerika Serikat Lakukan Kejahatan Perang saat Serang Iran

PBB Temukan Bukti Kuat Amerika Serikat Lakukan Kejahatan Perang saat Serang Iran

Screenshot video serangan Amerika Serikat ke Teheran Iran-X-

Militer AS belum merilis hasil penyelidikan mereka terkait serangan di Minab, namun Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan bahwa pihaknya tidak akan pernah menargetkan sasaran sipil. 

BACA JUGA:Pesta Tujuh Gol ke Gawang Santander, Barcelona Pertahankan Rekor Kemenangan 100 Persen

Masih pada tanggal 28 Februari, rudal *Precision Strike Missile* (PrSM) menyebarkan awan butiran tungsten di atas kompleks olahraga dan kawasan permukiman di kota Lamerd, menewaskan sedikitnya 21 warga sipil—termasuk tujuh anak-anak—menurut pihak berwenang setempat.

Sekali lagi, para ahli dari tim pencari fakta menyatakan bahwa kompleks olahraga tersebut dapat dikenali dengan jelas dan tidak ada informasi yang menunjukkan penggunaannya untuk tujuan militer.

Mereka menyimpulkan adanya dasar yang kuat untuk meyakini bahwa serangan tersebut dilakukan oleh AS, dengan merujuk pada bukti-bukti yang mencakup fakta bahwa AS adalah satu-satunya pihak yang berkonflik yang memiliki rudal PrSM.

Militer AS menyatakan tidak melakukan serangan apa pun di Lamerd pada hari itu dan membantah laporan yang mengidentifikasi senjata yang digunakan sebagai PrSM.

BACA JUGA:Manchester United Tersingkir dari Piala Liga, Michael Carrick Akui Lakukan Kesalahan Ini

Dalam kedua insiden tersebut, para ahli dari tim pencari fakta menyatakan terdapat "dasar yang kuat untuk meyakini bahwa AS telah melakukan kejahatan perang berupa peluncuran serangan tanpa pandang bulu yang mengakibatkan hilangnya nyawa atau cederanya warga sipil, ataupun kerusakan pada objek sipil". 

Laporan tim pencari fakta itu juga mencakup tindakan keras otoritas Iran terhadap protes massal yang terjadi di seluruh penjuru Iran pada bulan Desember 2025 dan Januari 2026.

Para ahli menyatakan bahwa hal ini merupakan eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dibandingkan dengan tindakan keras di masa lalu...

Tindakan keras tersebut ditandai dengan penggunaan kekuatan mematikan secara luas yang mengakibatkan pembunuhan dan cedera massal, serta penangkapan besar-besaran.

BACA JUGA:Dari Limbah Pertanian Jadi Pewarna Alami Wastra, Polipangkep Dorong Hilirisasi Inovasi Berbasis Potensi Lokal

Mereka mengutip keterangan saksi, tenaga kesehatan, dan keluarga korban yang menyatakan bahwa aparat keamanan menempatkan diri di atap bangunan dan posisi tinggi lainnya, lalu menembakkan senapan serbu ke arah kerumunan massa.

Para pengunjuk rasa juga mengalami luka parah di bagian kepala, dada, dan mata akibat peluru gotri logam, yang menyebabkan kebutaan permanen.

Menurut para ahli, seiring meningkatnya intensitas tindakan keras tersebut, aparat keamanan menyerang fasilitas kesehatan—memukuli serta menangkap demonstran yang terluka dan menahan sejumlah tenaga kesehatan—sehingga menghalangi korban untuk mendapatkan perawatan medis yang krusial bagi keselamatan nyawa mereka.