Dari Limbah Pertanian Jadi Pewarna Alami Wastra, Polipangkep Dorong Hilirisasi Inovasi Berbasis Potensi Lokal

Dari Limbah Pertanian Jadi Pewarna Alami Wastra, Polipangkep Dorong Hilirisasi Inovasi Berbasis Potensi Lokal

Inisiasi kemitraan Polipangkep dan Yayasan Kawan Lama berpotensi mencakup pemetaan potensi plasma nutfah sebagai sumber pewarna alami, pengembangan sumber daya manusia, regenerasi perajin, pelestarian budaya, serta penguatan akses ke jaringan pasar dan ri-Weradio.co.id-IST

Mendorong Hilirisasi dari Riset ke Pasar

Potensi pengembangan pewarna alami berbasis limbah pertanian tersebut kemudian menjadi salah satu titik temu antara Polipangkep dan Yayasan Kawan Lama.

Keduanya mulai menjajaki peluang kemitraan untuk memperkuat proses hilirisasi hasil riset, khususnya melalui pengembangan kapasitas perajin dan perluasan akses terhadap pasar.

Inisiasi tersebut dibahas dalam pertemuan yang berlangsung di Kantor Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek), Jakarta, Rabu, 9 September 2026.

Pertemuan itu dihadiri Tasya Widya Krisnadi (Ketua Yayasan (Chairperson) Kawan Lama Foundation), ⁠Chondro Rini (Chief Foundation Officer Kawan Lama Foundation), ⁠Clara (Project & Development Manager Kawan Lama Foundation), Prof. Yudi Darma (Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Saintek), Yoggi Herdani (Ketua Tim Kerja Penguatan Pemanfaatan dan Dampak Saintek), Zulfitriany Mustaka, (Periset Bestari Saintek dari Politani Pangkajene Kepulauan) dan staf pendamping.

BACA JUGA:Uhamka Perkuat Peran Global melalui Kajian Islam dan Budaya Internasional

Pertemuan tersebut mempertemukan program Living Laboratorium The Green Gold Kelapa Selayar dari Polipangkep dengan program pemberdayaan Yayasan Kawan Lama dan difasilitasi oleh Direktur Minat Saintek, Prof. Yudi Darma.

Pengalaman Yayasan Kawan Lama dalam pemberdayaan perajin menjadi salah satu potensi penguatan bagi pengembangan hasil riset tersebut.

Salah satunya melalui program Aram Bekelala Tenun Iban di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, yang mengembangkan pemanfaatan pewarna alami berbasis tanaman lokal sekaligus memperkuat kapasitas perajin perempuan Dayak Iban.

Melalui program tersebut, variasi warna alami yang dikembangkan meningkat dari enam menjadi 69 warna, dengan peningkatan pendapatan perajin perempuan hingga 360 persen.

BACA JUGA:Sejarah Media Cetak dan Perkembangannya dalam Sudut Pandang Komunikasi, Budaya, dan Media Digital

Pengembangan program Aram Bekelala juga didukung oleh Cita Tenun Indonesia, yang kemudian melibatkan desainer Wilsen Willim dalam pengembangan dan pengenalan tenun Iban.

Hasil kolaborasi tersebut tidak hanya diperkenalkan melalui ekosistem fashion Indonesia, termasuk Jakarta Fashion Week, tetapi juga dikembangkan menjadi produk yang dipasarkan melalui Pendopo, salah satu jaringan ritel Kawan Lama Group yang menghadirkan produk lokal dan wastra Indonesia.

Hal ini menunjukkan pengalaman Yayasan Kawan Lama dalam menghubungkan potensi lokal dan perajin dengan pengembangan produk serta akses ke pasar.

Ketua Yayasan Kawan Lama, Tasya Widya Krisnadi, menyampaikan, pengalaman dalam membangun ekosistem perajin dan menghubungkan potensi lokal dengan pasar dapat menjadi modal untuk mendukung proses hilirisasi hasil riset.

BACA JUGA:Tarian Abung Siwo Migo Lampung Utara Buka Dialog Kebudayaan Bersama Menteri Kebudayaan

"Pengalaman kami dalam mendampingi perajin menunjukkan bahwa pengembangan potensi lokal tidak hanya membutuhkan inovasi, tetapi juga penguatan kapasitas, pengembangan produk, serta akses terhadap pasar. Kami melihat peluang untuk saling melengkapi dengan riset yang dikembangkan Polipangkep,” ujar Tasya Widya Krisnadi.

Berita Terkait