Mengangkat Mitos Sumatera Utara, Film Begu Ganjang Padukan Dunia Medis dan Horor Lokal

Mengangkat Mitos Sumatera Utara, Film Begu Ganjang Padukan Dunia Medis dan Horor Lokal

Para pemain dan produser jumpa pers film Begu Ganjang di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026).-Para pemain dan produser jumpa pers film Begu Ganjang di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026).-Aditia Saputra

​JAKARTA, Weradio.co.id — Industri perfilman tanah air kembali menyajikan terobosan baru melalui pengangkatan mitos lokal Sumatera Utara ke layar lebar. Delapan Entertainment Studio resmi mengadaptasi novel karya dr. Ferdiriva Hamzah, Sp.M yang berjudul Begu Ganjang menjadi sebuah karya film bergenre medical horror mystery.

 

Langkah ini diambil untuk menghadirkan warna baru di tengah dominasi genre horor konvensional.

 

Pengangkatan cerita ini menjadi momentum penting dalam memperkenal warisan tradisi dan mitos daerah ke tingkat nasional hingga internasional.

 

Produser Film Begu Ganjang dari Delapan Entertainment Studio, Rama Michael, mengungkapkan alasan utama di balik pemilihan cerita ini. Cerita ini dinilai memiliki keunikan tersendiri dibandingkan kisah horor pada umumnya.

 

BACA JUGA:Film Horor The Doll Ghawiah Siap Guncang 18 Layar IMAX Se-Indonesia

 

​"Ini sesuatu yang amat unik. Ini memang bukan cerita horor yang sama kayak yang lain lah," ujar Rama Michael saat jumpa pers di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 19 Oktober 2026.

​

Selain proyek film layar lebar, pihak rumah produksi melihat potensi besar dalam pengembangan kekayaan intelektual (intellectual property) Begu Ganjang ke depan. Cerita yang kaya ini membuka peluang ekosistem kreatif yang lebih luas.

 

​"Who knows kita kalau misalnya nanti ke depannya, kita juga mengangkat nanti Begu Ganjang ini ke series," tambah Rama Michael.

 

​Benturan Logika Medis dan Kepercayaan Mitos Tradisional ​

 

Penulis novel sekaligus pemilik hak kekayaan intelektual, dr. Ferdiriva Hamzah, Sp.M, menjelaskan esensi utama yang ingin disampaikan dalam karyanya.

 

BACA JUGA:Lima Juri Akhir FFW 2026 Mulai Bekerja, Film dan Sineas Terbaik Indonesia di Tangan Mereka

 

Sebagai seorang dokter, ia merancang alur cerita yang menonjolkan benturan antara dunia medis dan mitos kepercayaan masyarakat.

 

​"Begu itu artinya hantu bahasa Batak. Begu Ganjang, Begunya itu hantu, Ganjang itu tinggi," kata dr. Ferdiriva Hamzah.

 

​Ia menegaskan pentingnya akurasi latar belakang medis dalam pengaluran cerita horor ini. Benturan antara pemikiran modern dan sudut pandang tradisional menjadi inti penggerak narasi.

 

​"Di sini saya ingin di film ini bukan cuma mengedepankan horor, tapi juga hubungan antara pemikiran modern dengan pemikiran tradisional. Jadi yang dibahas adalah benturan antara medis dan mitos," jelas dr. Ferdiriva.

 

BACA JUGA:Cinta di Ujung Takdir Aip Muhamad Masuk Film Layar Lebar

 

​Pendekatan Visual dan Riset Mendalam di Sumatera Utara

 

Sutradara film Begu Ganjang, Arwin Wardhana, memaparkan pendekatan sinematematik yang digunakannya. Ia berfokus pada pembentukan suasana mencekam (creepy) tanpa harus mengandalkan jump scare secara berlebihan.

 

​"Suasana creepy-nya itu yang tidak melulu jump scare. Bukan berarti gak ada, tapi serem," tutur Arwin Wardhana.

 

​Untuk menjaga keaslian cerita, tim produksi melakukan riset mendalam serta melibatkan penduduk lokal. Syuting dilaksanakan secara langsung di wilayah Sumatera Utara dengan porsi mencapai 30 persen.

 

​"Secara syuting tepat juga 30 persen di Sumatera Utara. Untuk riset juga kita melibatkan Dayang Rina Sinabutar, sekaligus dia juga berperan di film ini," ungkap Arwin. ​Perjalanan Alih Media dari Novel ke Skenario Film

 

BACA JUGA:Lagu Cinta di Ujung Takdir, Kisah Cinta yang Tak Bisa Bersatu

 

​Proses alih media dari bentuk novel menjadi skenario film membutuhkan waktu diskusi yang panjang. Tim produksi bahkan mengikutsertakan penulis yang memiliki latar belakang sebagai dokter jiwa untuk memperkuat aspek naskah.

 

​"Proses alih medianya tuh lumayan lama. Hampir draft 7 atau draft 8 itu draft final. Itu dengan lebih ke diskusi," jelas Arwin Wardhana.

 

Sementara itu, dari sudut pandang pribadi, dr. Ferdiriva membagikan pandangannya terkait hal-hal mistis dalam kehidupan sehari-hari.

 

​"Sebagai dokter saya harus menjelaskan semuanya secara medis dan pengetahuan ilmiah. Cuma saya yakin memang mistis itu ada," ucap dr. Ferdiriva Hamzah.

 

BACA JUGA:Tak Puas dengan Nolan, Elon Musk Siap Kucurkan Rp 1,6 T ke Mel Gibson untuk Garap Ulang Film The Odyssey

 

​Peran Baru Rama Michael di Belakang Layar

 

​Proses seleksi pemeran film dilakukan secara ketat melalui tahap audisi mendalam. Langkah ini diambil untuk memastikan setiap karakter dokter dan  tokoh lainnya tervisualisasikan dengan tepat.

 

​Transisi peran dari aktor menjadi produser memberikan tantangan tersendiri bagi Rama Michael. Ia harus mengelola seluruh elemen produksi film secara menyeluruh.

 

​​"Sebenarnya pusing, kalau mau jujur ya. Menjalani suatu proses produksi sebuah film itu memang cukup panjang. Banyak aspek dan elemen yang harus kita adukan," pungkas Rama Michael.