Transformasi Transportasi Umum Demi Kemandirian Energi Indonesia

Transformasi Transportasi Umum Demi Kemandirian Energi Indonesia

Sebesar 91,2 persen konsumsi BBM nasional di sektor transportasi, sebanyak 93 persen penyaluran BBM subsidi digunakan kendaraan pribadi.-Weradio.co.id-Litbang Kompas

Oleh sebab itu perlu adanya langkah-langkah krusial yang perlu diambil Pemerintah Indonesia. Pertama, percepatan migrasi ke transportasi umum berbasis listrik.

Langkah paling efektif untuk mengurangi konsumsi BBM nasional adalah dengan memindahkan pengguna kendaraan pribadi ke transportasi publik.

Melakukan elektrifikasi armada dengan mengganti armada transportasi publik di kota-kota besar lainnya dengan bus listrik secara masif.

Di Kota Medan, semua armada Trans Metro Deli sudah menggunakan kendaraan listrik. Berikutnya, integrasi antarmoda dengan memastikan konektivitas yang mulus antara KRL, MRT, LRT, dan pengumpan (feeder) agar masyarakat tidak punya alasan untuk menggunakan kendaraan pribadi.

Kedua, format ulang subsidi energi yang tepat sasaran. Subsidi BBM seringkali dinikmati oleh kalangan menengah ke atas yang memiliki kendaraan pribadi. Digitalisasi penyaluran menggunakan sistem verifikasi berbasis data, seperti aplikasi atau sensor plat nomor kendaraan. Tujuannya agar BBM bersubsidi benar-benar hanya dikonsumsi oleh angkutan umum dan logistik.

Selain itu, relokasi anggaran dengan mengalihkan sebagian anggaran subsidi BBM untuk membangun infrastruktur pengisian daya listrik (SPKLU), jalur sepeda dan perbaikan trotoar bagi pejalan kaki.

Ketiga, insentif kendaraan listrik (EV) dan Mikro-Mobilitas. Pemerintah perlu mendorong adopsi kendaraan listrik di level individu, terutama motor listrik yang populasi dan konsumsi energinya sangat besar di Indonesia.

Subsidi konversi dengan memberikan bantuan dana yang lebih besar bagi masyarakat yang ingin mengubah motor bensinnya menjadi motor listrik.

Namun harus melihat kondisi daerah, sehingga diperlukan pemetaan wilayah. Tidak seluruh daerah diberikan, terutama di perkotaan yang sudah berlebihan populasi sepeda motor. Bisa diterapkan di pulau-pulau kecil yang cukup banyak jumlahnya dan daerah 3TP (Terdepan, Terluar, Tertinggal, dan Perbatasan).

Juga diberikan fasilitas jalur khusus dengan mendorong penggunaan sepeda listrik dan skuter sebagai solusi last mile dengan membangun jalur yang aman dan nyaman.

Kabupaten Asmat sejak 2007 menggunakan kendaraan listrik dan sudah ada regulasinya berupa peraturan daerah.

Keempat, optimalisasi logistik jalur rel. Krisis energi berdampak besar pada harga pangan karena biaya distribusi menggunakan truk sangat bergantung pada harga solar.

Rel ganda (double track) mempercepat pembangunan rel ganda untuk angkutan barang agar beban logistik berpindah dari jalan raya ke kereta api yang jauh lebih efisien secara energi.

Mengaktifkan jalur rel yang pernah beroperasi, baik di Pulau Jawa maupun di Pulau Sumatera.

Kelima, pengembangan bahan bakar nabati (biofuel). Memanfaatkan kekayaan alam Indonesia untuk mengurangi impor energi. Peningkatan kadar campuran, melanjutkan pengembangan B40 atau B50 (biodiesel) dengan tetap menjaga keseimbangan antara ketahanan pangan dan energi (food vs fuel).