Lima Pelajaran Servant Leadership HR: dari HR sebagai Enabler Bisnis hingga Pentingnya Psychological Safety

Lima Pelajaran Servant Leadership HR: dari HR sebagai Enabler Bisnis hingga Pentingnya Psychological Safety

Country Director of People & Culture di Ascott Indonesia Albertha Sekundarti membagikan pengalamannya beralih dari jurnalis televisi ke dunia korporasi dan Human Resources. -Weradio.co.id-IG Albertha Sekundarti

“HR itu harus bisa jadi enabler bisnis, bukan hanya fungsi support,” tegas Albertha.

Ia juga mendorong para profesional HR untuk terus memperluas pengetahuan di luar disiplin HR. Menurutnya, semakin luas pemahaman seseorang terhadap bisnis dan fungsi lain, semakin besar kemampuannya untuk memberikan kontribusi yang bermakna.

BACA JUGA:Program MBG Bikin Siswa Lebih Rajin Datang ke Sekolah?

3. Perubahan karier butuhkan keberanian

Albertha membagikan pengalamannya beralih dari jurnalis televisi ke dunia korporasi dan HR. Perubahan tersebut membutuhkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman, sekaligus kemauan untuk mempelajari konteks dan keterampilan baru.

Dia menilai, pengalaman dari peran sebelumnya tetap dapat menjadi modal berharga ketika seseorang berpindah profesi. Kecepatan dalam menghadapi situasi, kemampuan membangun jejaring, serta pengalaman mengelola krisis dapat ditransfer, dan dikembangkan sesuai kebutuhan industri baru.

Albertha mendorong profesional untuk memahami keterampilan yang dibutuhkan oleh industri yang dituju, mengambil kesempatan untuk mengerjakan hal-hal baru, dan terus memperbarui kompetensi melalui pembelajaran maupun sertifikasi.

4. Psychological safety dan coaching bantu tim berani inovasi

Albertha menekankan pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang membuat anggota tim merasa aman untuk menyampaikan pendapat, mengajukan ide, dan berdiskusi tanpa takut langsung dihakimi.

BACA JUGA:Tenun Dayak Iban Menggebrak Jakarta Fashion Week 2027, Pendapatan Penenun Naik 360 Persen

Psychological safety dapat diperkuat melalui kebiasaan mendengarkan secara terbuka serta penerapan gaya kepemimpinan yang mengedepankan coaching. Alih-alih selalu memberikan jawaban, pemimpin dapat mendorong anggota tim untuk menyusun beberapa pilihan, mempertimbangkan risiko, dan menjelaskan dampak dari setiap usulan.

Pendekatan ini membantu tim membangun kemampuan berpikir dan mengambil keputusan secara lebih mandiri. Dalam jangka panjang, proses tersebut dapat memperkuat kepercayaan diri, mendorong inovasi, dan membangun rasa memiliki terhadap keputusan yang diambil.

5. Penyelarasan budaya perlu hubungkan people, brand, dan pengalaman pelanggan

Budaya organisasi, menurut Albertha, tidak dapat dipisahkan dari cara karyawan menjalankan perannya dan pengalaman yang diterima pelanggan. Dalam industri hospitality, people, dan brand perlu bergerak bersama agar nilai perusahaan dapat dirasakan secara konsisten, meskipun setiap properti atau brand punya karakteristik berbeda.

Makanya, penyelarasan budaya perlu diterjemahkan ke dalam perilaku sehari-hari dan diperkuat melalui komunikasi serta pelatihan yang berkelanjutan.

Berita Terkait