Lima Pelajaran Servant Leadership HR: dari HR sebagai Enabler Bisnis hingga Pentingnya Psychological Safety

Lima Pelajaran Servant Leadership HR: dari HR sebagai Enabler Bisnis hingga Pentingnya Psychological Safety

Country Director of People & Culture di Ascott Indonesia Albertha Sekundarti membagikan pengalamannya beralih dari jurnalis televisi ke dunia korporasi dan Human Resources. -Weradio.co.id-IG Albertha Sekundarti

JAKARTA, Weradio.co.id - Seorang pemimpin sejatinya hadir sebagai pendukung tim, serta pentingnya peranan Human Resources (HR) atau Sumber Daya Manusia (SDM) untuk memahami arah bisnis agar tidak sekadar menjadi fungsi administratif, melainkan enabler pertumbuhan perusahaan.

Demikian dikatakan Country Director of People & Culture di Ascott Indonesia Albertha Sekundarti dalam podcast Power Talks - ruang diskusi yang digagas Jobstreet by SEEK - bertajuk Servant Leadership untuk HR beberapa waktu lalu. 

Dalam episode tersebut, Alberta membagikan pengalaman memimpin transformasi HR di berbagai industri, termasuk saat melakukan integrasi budaya setelah merger serta mengelola fungsi people and culture (P&C) di industri hospitality.

Ada lima pelajaran kepemimpinan dan pengelolaan SDM yang relevan bagi perusahaan maupun profesional yang ingin bertumbuh di dunia kerja yang terus berubah.

BACA JUGA:Tingkatkan Kualitas Kehidupan Masyarakat, Gunakan AI dengan Bijak dan Kritis

1. Servant leadership tempatkan pemimpin sebagai pendukung tim

Menurut Albertha, servant leadership bukan berarti pemimpin kehilangan peran untuk mengarahkan tim. Gaya kepemimpinan ini menempatkan pemimpin sebagai pihak yang membantu tim mencapai tujuan dengan membuka jalan, memberikan dukungan, serta menyampaikan saran dan arahan secara lebih konstruktif.

Dalam pendekatan ini, pemimpin tidak selalu harus berada “di atas” tim. Pemimpin perlu memahami kebutuhan anggota tim, mendengarkan tantangan yang mereka hadapi, dan memastikan mereka memiliki dukungan yang dibutuhkan untuk bekerja secara efektif.

Pendekatan tersebut menjadi semakin penting ketika organisasi menghadapi perubahan atau merger. Dengan memberikan ruang untuk berdialog dan menyampaikan arahan secara tepat, pemimpin dapat membantu mengurangi resistensi sekaligus mendorong tim menjadi change agent dalam proses transformasi.

“Pada dasarnya servant leadership adalah bagaimana cara menjadi seorang pemimpin yang bisa melayani orang lain, melayani timnya. Seorang pemimpin itu tidak harus ada di atas, tapi ada di bawah,” ujar Albertha dalam rilis Jobstreet by SEEK yang diterima Weradio co.id.

BACA JUGA:Bangun Generasi Sehat, Billy Martasandy Berbagi Ilmu Cara Pendekatan Psikologi pada Anak

2. HR perlu pahami orientasi bisnis untuk jadi enabler pertumbuhan

Menurut Albertha, HR perlu memahami tujuan dan arah bisnis agar dapat berkontribusi lebih strategis. Pemahaman tersebut mencakup visi jangka panjang perusahaan, prioritas bisnis, target yang ingin dicapai, serta indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan.

Dengan memahami konteks bisnis, HR dapat menerjemahkan strategi perusahaan ke dalam kebutuhan organisasi, kapabilitas tenaga kerja, serta program pengembangan yang lebih relevan. Peran HR pun tidak berhenti sebagai fungsi pendukung, tetapi menjadi enabler yang membantu bisnis bergerak menuju tujuan bersama.

Berita Terkait