Didukung Teknologi Digital, Anak Indonesia Berpotensi Jadi Sutradara, Begini Pendapat Praktisi Media
Lebih dari tiga dekade berkarya di industri penyiaran televisi nasional, praktisi media sekaligus pemerhati program anak Maria Elizabeth yang biasa dipanggil Liza Maria kini mendedikasikan pengalaman dan kompetensinya untuk mengembangkan kreativitas anak -Weradio.co.id-Liza Maria
Anak-anak kini memiliki akses terhadap perangkat digital dan mereka bisa belajar memproduksi video, fotografi, menulis naskah, hingga mengedit konten secara mandiri.
Namun, ia juga mengingatkan kecanggihan teknologi harus diimbangi dengan pendidikan karakter serta kreativitas yang memiliki nilai positif.
"Anak-anak sekarang luar biasa karena didukung teknologi dan digitalisasi. Yang harus kita lakukan adalah mengarahkan mereka agar menghasilkan karya yang punya nilai positif. Jangan sekadar membuat konten untuk viral, tetapi membuat karya yang memiliki pesan, manfaat, dan bisa menjadi kebanggaan," tutur Liza, SEAVFC Assistant Board of Indonesia.
Menurutnya, sebuah karya sederhana berdurasi lima hingga sepuluh menit pun dapat memiliki dampak besar apabila dibangun dari cerita yang kuat, kreativitas yang tinggi, dan pesan yang positif.
Melalui festival video anak SEAVFC karya-karya tersebut bahkan berpeluang mewakili Indonesia di tingkat ASEAN.
"Kalau cerita mereka bagus, penyajiannya kreatif, dan memiliki nilai, itu bisa menjadi prestasi besar.
Anak-anak tidak hanya menjadi pembuat konten, tetapi juga belajar menjadi storyteller yang mampu membawa nama Indonesia di forum internasional," ujarnya.
Hari Anak Nasional 2026
Dalam peringatan Hari Anak Nasional 2026, Liza Maria juga menyampaikan pesan kepada generasi muda agar terus berani mengeksplorasi kemampuan diri.
BACA JUGA:Sutradara Rico Michael Angkat Kisah Nyata di Film Dalam Sujudku, Marcell Darwin Masih Terus Belajar
Ia menilai pendidikan formal perlu dilengkapi dengan keterampilan kreatif yang akan menjadi bekal menghadapi persaingan global.
"Jangan takut untuk berkreasi. Berani berkembang, berani menyampaikan ide, dan terus mengasah kemampuan. Anak-anak perlu belajar menulis, membuat video, fotografi, editing, hingga bercerita. Semua keterampilan itu akan menjadi modal penting di masa depan," katanya.
Liza menambahkan, keberhasilan membangun generasi kreatif tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Orang tua, pemerintah, media, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan anak perlu berkolaborasi menciptakan ekosistem anak yang mendukung tumbuhnya kreativitas anak.
Ia menambahkan agar perhatian terhadap pengembangan talenta anak tidak hanya berpusat di kota-kota besar.