Kemanfaatan Reaktivasi Jalur Kedungjati - Tuntang
PT Kereta Api Indonesia sedang menyiapkan langkah strategis untuk mereaktivasi jalur KA Kedungjati – Tuntang sepanjang 30 km. -Weradio.co.id-IST
Percabangan jalur rel Kedungjati menuju Ambarawa sepanjang 37 kilometer memiliki keistimewaan. Saat pembangunan jalur Semarang - Vorstenlanden, NIS didera kesulitan modal. Namun, Pemerintah Hindia Belanda bersedia memberikan pinjaman modal dengan bunga 4,5 persen.
Pasca-Perang Diponegoro (1825-1830), Ambarawa ditetapkan sebagai titik pertahanan militer yang sangat strategis karena lokasinya yang menghubungkan Semarang, Yogyakarta, dan Surakarta. Urgensi pengerahan pasukan inilah yang mendorong pembangunan rel kereta api secara masif di sana.
Begitu vitalnya Jawa Tengah bagi Hindia Belanda, hingga hampir seluruh wilayahnya terhubung oleh rel, kecuali Salatiga.
Kota Salatiga menjadi satu-satunya wilayah yang terisolasi dari jalur kereta api, salah satunya karena tantangan kondisi geografisnya yang sulit.
Rute ini menawarkan pemandangan memukau, meski pembangunannya menuntut ketangkasan teknis yang luar biasa.
Jalurnya membelah perbukitan dan hutan jati yang rimbun, dengan jembatan-jembatan tinggi yang menjulang gagah di atas sungai serta lembah sebagai ciri khas utamanya.
Layanan reguler di jalur ini akhirnya terhenti pada tahun 1976. Keputusan sulit tersebut diambil karena kereta api mulai kalah bersaing dengan bus dan truk, ditambah kondisi prasarana yang kian menua serta biaya perawatan yang membengkak.
Di saat minat penumpang menurun drastis, kebijakan pemerintah kala itu pun mulai berpaling dari angkutan umum seiring dengan masuknya pengaruh industri otomotif.
Rencana Reaktivasi
Antara tahun 2013 dan 2015, harapan untuk melihat kereta api kembali melintas di jalur ini muncul lewat proyek reaktivasi oleh Kemenhub.
Jalur sepanjang 30 km yang menghubungkan Kedungjati dan Tuntang ini direncanakan untuk aktif kembali. Sayangnya, progres fisik yang sempat berjalan baru mencapai pemasangan rel sepanjang 1,2 km dari Stasiun Kedungjati.
Reaktivasi ini bertujuan menghidupkan pariwisata menuju Museum Kereta Api Ambarawa dan Benteng Pendem (Fort Willem I).
Keberadaan jalur ini juga mempermudah akses wisatawan ke destinasi ikonik sekitarnya, mulai dari Candi Gedong Songo, Rawa Pening, pendakian Gunung Ungaran, hingga kesejukan Umbul Sidomukti, Kopeng, dan Bandungan.
Meski pengerjaan fisik berupa pemasangan rel dan bantalan beton sempat berjalan, proyek ini akhirnya terhenti akibat kendala dana dan teknis. Kini, kondisi infrastruktur di lapangan terbengkalai; banyak bagian rel yang telah terpasang kini kembali tertutup rapat oleh semak belukar.
Jalur ini menghubungkan titik-titik bersejarah seperti Kedungjati hingga Tuntang, melintas unik di bawah jalan Tol Semarang - Solo. Jika aktif kembali, rute ini akan mengubah fungsi Stasiun Tuntang dari sekadar tempat wisata menjadi titik keberangkatan kereta api jarak jauh menuju Jakarta dan Surabaya.