Kemanfaatan Reaktivasi Jalur Kedungjati - Tuntang

Kemanfaatan Reaktivasi Jalur Kedungjati - Tuntang

PT Kereta Api Indonesia sedang menyiapkan langkah strategis untuk mereaktivasi jalur KA Kedungjati – Tuntang sepanjang 30 km. -Weradio.co.id-IST

Dahulu, Stasiun Tuntang merupakan pusat logistik ternak yang vital. Stasiun ini memiliki infrastruktur khusus untuk memindahkan sapi ke dalam gerbong kereta, yang kemudian dikirim langsung menuju Stasiun Cipinang di Jakarta.

Kemanfaatan

Kembalinya denyut jalur Kedungjati - Tuntang bukan sekadar menghidupkan rel tua, melainkan memicu efek domino bagi ekonomi dan pariwisata Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga.

Reaktivasi ini akan menyempurnakan jalur melingkar (loop line) Jawa Tengah yang menghubungkan Semarang, Yogyakarta, hingga Solo. Wisatawan dari Jakarta atau Surabaya pun bisa langsung menuju Ambarawa tanpa terjebak macet di ruas Ungaran - Bawen.

Selain itu, jalur ini akan memperlancar mobilitas warga antarkota satelit di sekitar Semarang melalui integrasi transportasi yang lebih efisien.

Jalur ini menyuguhkan pengalaman unik naik kereta uap melewati hutan jati dan jembatan bersejarah. Jika terhubung, wisatawan dapat menikmati perjalanan terpadu yang menghubungkan Stasiun Kedungjati, Rawa Pening, hingga Museum Ambarawa secara langsung.

Menghadapi risiko kecelakaan di jalur tengkorak Bawen, kehadiran kereta komuter menjadi alternatif vital untuk mengurangi volume kendaraan di jalan raya nasional.

Selain mempermudah mobilitas penumpang, jalur ini memiliki potensi strategis untuk angkutan logistik dari wilayah Tuntang, Bringin, hingga Kedungjati guna menggerakkan ekonomi pedalaman.

Reaktivasi ini akan menghidupkan kembali stasiun-stasiun yang lama mati, seperti Bringin dan Gogodalem, sekaligus memicu titik-titik ekonomi baru mulai dari penginapan hingga jasa transportasi lokal. Bagi warga di daerah terpencil seperti Gogodalem yang sulit dijangkau, jalur kereta api akan menjadi urat nadi transportasi yang lebih cepat dan mudah menuju pusat kota.

Reaktivasi adalah kunci untuk menyelamatkan aset negara dari kerusakan dan penyerobotan lahan. Dengan perawatan rutin melalui operasional jalur, bangunan stasiun dan jembatan bersejarah dapat terjaga fungsinya. Ini adalah upaya nyata melestarikan warisan jalur kereta api tertua di Indonesia agar tidak sekadar menjadi kenangan yang hilang.

(*) Penulis adalah Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)