Dilema Sepeda Motor di Indonesia, Bertahan Hidup atau Mempertaruhkan Keselamatan?
Dominasi sepeda motor memicu persoalan serius, seperti tingginya risiko kecelakaan dan emisi perkotaan. Hal yang kian diperparah oleh minimnya layanan transportasi umum.-Weradio.co.id-IST
Oleh: Djoko Setijowarno (*)
Sepeda motor menjadi tulang punggung transportasi masyarakat Indonesia karena terjangkau dan mudah diakses.
Namun, dominasi kendaraan ini memicu persoalan serius, seperti tingginya risiko kecelakaan dan emisi perkotaan. Hal yang kian diperparah oleh minimnya layanan transportasi umum
Dominasi sepeda motor didorong oleh kemampuannya menembus kemacetan dan jalan sempit di perkotaan padat.
Selain biaya kepemilikan serta operasionalnya yang jauh lebih murah dibanding mobil, kendaraan ini juga dimanfaatkan seca.ra luas sebagai moda transportasi informal, ojek daring (online), hingga sarana logistik UMKM (kurir).
BACA JUGA:Membangun Budaya Keselamatan Jalan lewat Wajib Sekolah Mengemudi
Sepeda Motor Penyebab Kecelakaan
Data IRMS Korlantas Polri tahun 2024–2026 mencatat sepeda motor sebagai kendaraan yang paling dominan terlibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia.
Kasus kecelakaan terus meningkat, dari 97.270 kasus pada Semester I/2025 menjadi 114.130 kasus pada Semester II/2025, dan naik lagi menjadi 120.975 kasus pada Semester I/2026
Kajian Puslitbang Polri menemukan kendaraan roda dua mendominasi sekitar 75 persen kejadian kecelakaan lalu lintas.
Hal ini menegaskan pengendara sepeda motor merupakan kelompok pengguna jalan yang paling rentan di Indonesia.
BACA JUGA:Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan, Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Meskipun jumlah total kendaraan bermotor terus bertambah, proporsi sepeda motor tetap konsisten di atas 75 persen.
Risiko Tertinggi
Penelitian Polri menunjukkan sebagian besar pelanggaran dan kecelakaan melibatkan kelompok usia produktif (17–35 tahun), khususnya pelajar dan mahasiswa.