Taklimat Prabowo dan Konsolidasi Elite TNI - Polri
Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional (Unas), Dr. Selamat Ginting-Weradio.co.id-Dok Pribadi
Dalam konteks itu, pernyataan Presiden bahwa kemampuan intelektual harus menjadi pertimbangan penting dalam rekrutmen TNI - Polri merupakan pesan yang relevan.
Militer dan kepolisian masa depan membutuhkan prajurit TNI dan anggota Polri yang bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga mampu berpikir strategis, menguasai teknologi dan memahami dinamika geopolitik.
BACA JUGA:Pentingnya Pendidik Berbasis Seni Reflektif dan Kesadaran Kemanusiaan
Jangan Tumpang Tindih
Pesan mengenai tidak boleh adanya ego sektoral juga penting. Ancaman keamanan modern memang semakin sulit dipisahkan secara kaku.
Terorisme, kejahatan siber, perdagangan manusia, narkotika, konflik sosial, bencana, ancaman terhadap objek vital hingga perang hibrida membutuhkan koordinasi lintas institusi.
Namun, sinergi tidak boleh berubah menjadi tumpang tindih kewenangan. TNI mempunyai mandat utama dalam pertahanan keamanan negara.
Polri mempunyai mandat utama dalam keamanan ketertiban masyarakat dan penegakan hukum.
BACA JUGA:Antisipasi Kenaikan Harga BBM Tahun 2027
Pembagian fungsi tersebut merupakan bagian penting dari desain negara demokratis pascareformasi.
Oleh karena itu, semakin kuat koordinasi TNI - Polri, semakin penting pula memperjelas batas kewenangan keduanya.
Sinergi harus dibangun di atas koordinasi, bukan subordinasi salah satu institusi terhadap institusi lainnya.
TNI tidak boleh menjadi polisi, dan polisi tidak boleh berubah menjadi militer.
BACA JUGA:Mudik di Tengah Arus Informasi Digital
Profesionalisme Bukan Slogan